Materi Hidup Zuhud dalam Pendidikan Islam
a. Materi Hidup
Zuhud dalam Pendidikan Islam
Materi zuhud
dalam pendidikan Islam dapat dijelaskan melalui pembahasan di bawah ini:
1. Memperbanyak
Zikir kepada Allah
Nabi Muhammad
SAW., adalah orang yang paling sempurna dalam berzikir kepada Allah, bahkan
seluruh ucapan Nabi berisi zikir kepada Allah. Beliau selalu berzikir kepada Allah dalam
setiap waktu, baik dalam keadaan berdiri, duduk, berbaring maupun aktivitas
lainnya. Dengan demikian zikir merupakan suatu perbuatan mulia yang telah
dicontohkan oleh Rasulullah SAW. Oleh karena itu, setiap orang muslim harus
selalu memperbanyak berzikir kepada Allah, karena zikir merupakan salah satu
jalan yang paling besar untuk terciptanya ketenteraman hati. Berzikir juga akan
menghilangkan kegelisahan dan kegundahan jiwa. Hal ini sesuai dengan firman
Allah dalam Al-Quran yang berbunyi:
Artinya:
Orang-orang yang beriman hati mereka manjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah,
hanya dengan mengingati Allah-lah hati menjadi tenteram. (Q.S.
Ar-Ra’du: 28).[1]
Melihat ayat di atas, penulis dapat memahami bahwa
berzikir memiliki pengaruh yang besar untuk terwujudnya ketenangan jiwa. Seseorang
yang telah beriman kepada Allah harus senantiasa memperbanyak berzikir kepada
Allah. Oleh karena itu salah satu jalan terwujudnya zuhud terhadap dunia adalah
memperbanyak berzikir kepada Allah. Orang yang telah banyak berzikir kepada
Allah ia akan selalu rindu kepada-Nya dan akan hilang sifat loba dan rakus
kepada harta benda yang menyebabkan ia lupa kepada Allah.
2.
Mensyukuri Berbagai Nikmat Allah
Mensyukuri
nikmat Allah juga merupakan jalan untuk terwujudnya sikap zuhud terhadap
dunuia. Seorang hamba yang telah beriman kepada Allah diajurkan untuk bersyukur
terhadap nikmat yang telah di berikan oleh Allah kepadanya. Seorang muslim walaupun ia hidup dalam keadaan
menderita dan fakir atau sakit. Namun penderitaan dan kefakirannya itu belum
seberapa jika di bandingkan dengan nikmat yang telah di berikan oleh Allah
kepadanya. Hal ini sesuai dengan firman Allah dalam Al-Quran:
bÎ)ur
(#rãès? spyJ÷èÏR «!$# w !$ydqÝÁøtéB 3 cÎ) ©!$# Öqàÿtós9
ÒOÏm§ (النحل: 18)
Artinya: Dan jika kamu
menghitung-hitung nikmat Allah, niscaya kamu tak dapat menentukan jumlahnya.
Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (Q.S. An-Nahl:
18).[2]
Melihat ayat di atas, penulis dapat mengerti bahwa
manusia tidak akan mampu menghitung nikmat yang telah diberikan oleh Allah
kepadanya. Dengan demikian sudah sepantasnyalah manusia mensyukuri terhadap nikmat
Allah yang diberikan kepadanya. Orang yang bersyukur adalah orang yang zuhud
terhadap dunia. Karena ia tidak akan putus asa terhadap cobaan dan musibah yang
menimpa dirinya. Orang yang bersyukur juga tidak akan susah kalau ia fakir dan miskin. Ia yakin bahwa rizkinya sudah ada di
tangan Allah SWT.
3.
Berakhlak
mulia, baik melalui ucapan dan perbutan.
Di antara jembatan
untuk terwujudnya sikap zuhud adalah berperilaku baik kepada orang lain melalui
ucapan maupun perbuatan. Hal
ini merupakan suatu kebaikan yang sangat mulia disisi Allah. Orang yang baik
bukanlah orang yang hanya mampu melakukan ibadah kepada Allah semata. Akan tetapi ia juga harus mampu melakukan
hubungan baik dengan sesamanya. Hal ini sesuai dengan firman Allah dalam
Al-Quran yang berbunyi:
w
uöyz
Îû 9ÏV2 `ÏiB
öNßg1uqôf¯R wÎ)
ô`tB
ttBr& >ps%y|ÁÎ/ ÷rr& >$rã÷ètB
÷rr& £x»n=ô¹Î)
ú÷üt/
Ĩ$¨Y9$#
4 `tBur ö@yèøÿt
Ï9ºs uä!$tóÏFö/$#
ÏN$|ÊósD «!$#
t$öq|¡sù
ÏmÏ?÷sçR #·ô_r& $\KÏàtã
(النساء:114)
Artinya: Tidak
ada kebaikan pada kebanyakan bisikan-bisikan mereka, kecuali bisikan-bisikan
dari orang yang menyuruh (manusia) memberi sedekah, atau berbuat ma'ruf, atau
Mengadakan perdamaian
di antara manusia. dan Barangsiapa yang berbuat demikian karena mencari
keredhaan Allah, Maka kelak Kami memberi kepadanya pahala yang besar. (Q.S.
An-Nisa’: 114)[3]
4. Merasakan Keagungan Sang Pencipta dan Kedahsyatan Azab-Nya
Seorang muslim jika ia merasakan keagungan tuhan yang
maha pencipta, merasakan kedahsyatan sisksaan-Nya, merasakan keberadaan surga
dan segala bentuk nikmat di dalamnya, maka ia akan taat kepadaAllah SWT. Ia
juga akan zuhud terhadap dunia dan menjadikannya sebagai jembatan untuk menuju
akhirat kelak. Hal seperti ini hanya akan dirasakan oleh orang-orang yang taat
kepada Allah SWT. akan tetapi tidak dirasakan oleh orang-orang yang maksiat
kepada Allah SWT.[4]
5.
Memperbanyak
Mengingat Kematian
Seorang muslim yang zuhud pada kehidupan duniawi, ia
banyak mengingat kematian dan tidak akan terlalu cinta kepada hartanya. Ia
yakin bahwa segala harta kekayaannya yang ia miliki adalah milik Allah SWT., maka
ia akan memanfaatkan hartanya itu kepada tempat yang diridhai Allah SWT. Hal
ini berbeda dengan orang yang sibuk memikirkan dunia hingga ia melupakan
kehidupan akhiratnya. Ia banyak berangan-angan pada kenikmatan duniawi.
Akibatnya ia lalai dari mengingat Allah dan beramal untuk akhiratnya. Hal ini
sesuai dengan firman Allah dalam al-Hijr ayat 3 yang berbunyi:
öNèdös (#qè=à2ù't (#qãèGyJtGtur ãLÏiÎgù=ãur ã@tBF{$# ( t$öq|¡sù tbqçHs>ôèt (الحجر: (
Artinya: Biarkanlah
mereka (di dunia ini) makan dan bersenang-senang dan dilalaikan oleh angan-angan (kosong), Maka
kelak mereka akan mengetahui (akibat perbuatan mereka). (Q.S. Al-Hijr: 3).[5]
Berdasarkan penjelasan di atas, penulis dapat memahami
bahwa dalam Agama Islam zuhud memiliki tiga bentuk yang penting yaitu: zuhud
pada kekuasaan dan jabatan, zuhud pada harta benda, zuhud pada makanan dan
pakaian. Dalam pendidikan Islam zuhud juga memiliki materi-materi yang harus
ditanamkan kepada setiap pribadi muslim. Materi-materi tersebut adalah
memperbanyak berzikir kepada Allah, mensyukuri berbagai nikmat Allah, berakhlak
mulia, merasakan keagungan Sang pencipta, meyakini akan Azab-Nya dan
memperbanyak mengingat kematian. Selain itu, dalam Agama Islam zuhud juga
memiliki keutamaan, fungsinya dalam kehidupan dan tingkatan-tingkatan orang
zuhud.
[1]
Shaleh Ahmad Asa-Syaami, Berakhlak dan Beradab Mulia, (Jakarta: Gema
Insani, 2005), hal. 43.
[2]
Moh. Zuhri, Himpunan Khutbah Jum’at, (Jakarta: Pustaka Amani, 1988),
hal. 202.

Post a Comment for "Materi Hidup Zuhud dalam Pendidikan Islam"