Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Materi Metode Kisah


A.    Materi Metode Kisah     


Cerita atau kisah-kisah dalam Alquran yang mengandung banyak pelajaran, hikmah ini sangat penting untuk pembentukan sikap atau perilaku yang diajarkan anak sesuai dengan pendidikan Islam. Sehingga apabila diposisikan sebagi materi dalam pendidikan Islam yang disampaikan dengan materi kisahmaka sangat efektif untuk menarik perhatian anak dan merangsang otaknya agar bekerja dengan baik.
Menurut penuturan Ibu Lisnur, bahwa “bercerita bukan hanya berfungsi sebagai hiburan tetapi juga merupakan suatu cara yang dapat digunakan dalam mencapai sasaran-sasaran atau target pendidikan. Metode kisah dapat menjadikan suasana belajar menyenangkan dan menggembirakan dengan penuh dorongan dan motivasi sehingga pelajaran atau materi pendidikan itu dapat dengan mudah diberikan”.[1] Metode kisah memiliki fungsi memahami konsep ajaran Islam secara emosional. Cerita yang bersumber dari Alquran dan kisah-kisah keluarga muslim diperdengarkan melalui cerita diharapkan anak didik tergerak hatinya untukmengetahui lebih banyak agamanya dan pada akhirnya terdorong untuk beramaldi jalan lurus.
Kisah, keterkaiatannya dengan pendidikan anak, memiliki peran yang sangat penting, lantaran kisah juga merupakan salah satu metode pengajaran. Dalam Alquran, Allah Subhanahu wa Ta'ala telah mengajarkan berbagai kisah dari umat-umat terdahulu. Sehingga secara langsung bisa dipahami, bahwa Islam memberikan perhatian yang besar terhadap masalah ini, yaitu dengan menyebutkan kisah-kisah yang mendidik dan bermanfaat sebagai metode dalam menyampaikan pengajaran. Sebagaimana Allah Subhanahu wa Ta'ala telah mencontohkan kisah tentang Luqman Al-Hakim yang memberi wasiat kepada anaknya dengan wasiat yang sangat penting dan berharga.
Adapun materi metode cerita yang diajarkan di Raudhatul Athfal Nurul Hilal menurut Ibu Rosmani adalah “kisah Nabi Yusuf dimasukkan ke dalam sumur, kisah Abu Nawas dan terompah Ajaib, kisah Nabi Muhammad yang yatim, kisah Nabi Ibrahim, kisah Nabi Ismail, Kisah penghuni syurga, kisah penghuni neraka, kisah perang badar, kisah perang uhud”.[2] Pentingnya metode kisah diterapkan dalam dunia pendidikan adalah karena dengan metode ini, akan memberikan kekuatan psikologis kepada peserta didik, dalam artian bahwa; dengan mengemukakan kisah-kisah nabi  kepada peserta didik, mereka secara psikologis terdorong untuk menjadikan nabi-nabi tersebut sebagai uswah (suri tauladan).
Pelaksanaan pembelajaran dengan metode kisah di Raudhatul Athfal Nurul Hilal menurut Ibu Rahmah bahwa digunakan dalam beberapa materi. Diantaranya:
Kisah-kisah tentang para Nabi dan para Rasul yang membawa syiar Islam. Berisi tentang keteladanan mereka, kisah tokoh teladan dan kisah teladan makhluk hidup. Materi-materi tersebut dituangkan ke dalam beberapa judul, seperti: 1) Kisah Semut dan Burung Materi ini berisi kisah dua ekor binatang, yakni semut dan burung. Keduanya memiliki etos tinggi dalam tolong menolong. Kekuatan tolong menolong mereka mengantarkan keduanya menjadi sahabat yang selalu seiring sejalan dalam berbagai keadaan. Materi ini sangat singkat, namun sudah sangat efektif dan mendalam materinya jika diberikan untuk anak usia dini. 2) Gajah Yang Malang Materi ini berisi kisah seekor gajah yang menjadi mengalami kecelakaan kecil, yakni jatuh terperosok di lobang. Kemudian ada gajah lainnya yang berusaha menolong. Sehingga gajah tersebut dapat kembali bangkit. Materi ini juga sangat singkat, namun sudah sangat efektif dan mendalam materinya jika diberikan untuk anak usia dini. 3) Umar bin Khattab Materi ini berisi kepahlawanan tokoh Umar bin Khattab. Seperti halnya materi-materi sebelumnya, Materi ini sangat singkat, namun sudah sangat efektif dan mendalam materinya jika diberikan untuk anak usia dini.[3]

Materi-materi yang diberikan di Raudhatul Athfal Nurul Hilal tersebut sudah cukup baik, untuk kriteria anak usia dini. Karena secara mental, anak usia tersebut masih menyukai cerita-cerita yang bersifat dongeng fabel seperti Ketela Ajaib Kisah Semut dan Burung, Kancil dan Buaya sebagaimana yang diberikan di Raudhatul Athfal Nurul Hilal, sebagaimana yang dikemukakan oleh Kak Bimo, (seorang tokoh pembawa cerita nasional). Selain itu sebenarnya fabel, anak usia dini sebenarnya juga menyukai cerita horor, tapi untuk pembelajaran di Raudhatul Athfal Nurul Hilal tampaknya kurang tepat, karena cenderung akan mengisi ilusi yang kurang berguna bagi perkembangan jiwa anakdidik disana.


               [1] Lisnur, Guru Raudhatul Athfal Nurul Hilal Kota Juang Bireuen, Wawancara di Raudhatul Athfal Nurul Hilal, 03 Oktober 2015.

               [2] Rosmani, Kepala Raudhatul Athfal Nurul Hilal Kota Juang Bireuen, Wawancara di Raudhatul Athfal Nurul Hilal, 03 Oktober 2015.

               [3] Rahmah, Guru Raudhatul Athfal Nurul Hilal Kota Juang Bireuen, Wawancara di Raudhatul Athfal Nurul Hilal, 03 Oktober 2015.


Post a Comment for " Materi Metode Kisah "