Media Metode Kisah
A.
Media Metode Kisah
Media pengajaran digunakan dalam rangka upaya peningkatan
atau mempertinggi mutu proses kegiatan belajar-mengajar. Suatu kisah sebaiknya
diberikan secara menarik dan membuka kesempatan bagi anak untuk bertanya dan
memberikan tanggapan setelah guru selesai bercerita. Cerita akan lebih
bermanfaat jika dilaksanakan sesuai dengan minat, kemampuan dan kebutuahan
anak. Metode kisah efektif deterapkan didalam pendidikan Islam karena dengan
mendengarkan kisah yang mengandung hikmah dapa menarik perhatian anak dan
merangsang otaknya agar bekerja dengan baik selain itu anak merasa senang
sekaligus dapat menyerap nilai-nilai pendidikan tanpa merasa dijejali. Selain
itu kisah selalu memikat karena mengundang pembaca atau pendengarnya untuk
mengikuti peristiwanya merenungkan maknanya selanjutnya makna-makna itu akan
menimbulkan kesan dalam hati pendengar atau pembaca tersebut.
Ada beberapa
teknik bercerita yang dapat dipergunakan antara lain dapat membaca langsung
dari buku, menggunakan ilustrasi dari buku, gambar, menggunakan papan flanel,
menggunakan boneka, memainkan jari-jari tangan dan bercerita dengan gambar sebagai
berikut:
1)
Bercerita Dengan Menggunakan Papan Flanel
Papan flannel adalah “papan yang berlapis kain flannel,
sehingga gambar yang akan disajikan dapat dipasang dan dilepas dengan mudah dan
dapat dipakai berkali-kali. Papan flannel termasuk salah satu media
pembelajaran dua dimensi, yang dibuat dari kain flannel yang ditempelkan pada
sebuah triplek atau papan”.[1] Menurut
Ibu Rosmani, “guru membuat papan flanel dengan melapisi seluas papan dengan kain
flanel yang berwarna netral, misalnya warna abu-abu. Gambar tokoh-tokoh yang
mewakili perwatakan dalam ceritanya digunting polanya pada kertas yang
dibelakangnya dilapis dengan kertas goso yang paling halus untuk menempelkan
pada papan flanel supaya dapat melekat. Gambar foto-foto itu dapat dibeli di
pasaran atau dikreasi oleh guru, sesuai dengan tema dan pesan-pesan yang ingin
disampaikan melalui bercerita”.[2]
2)
Bercerita dengan Menggunakan Ilustrasi Gambar dari Buku
Teknik bercerita dengan menggunakan ilustrasi gambar dari
buku ini dapat dipilih guru jika cerita yang akan disampaikan pada anak terlalu
panjang terinci. “Penggunaan ilustrasi gambar dapat menarik perhatian anak,
sehingga teknik bercerita ini akan berfungsi dengan baik”.[3] Menurut
Ibu Kasmiati, bila cerita yang disampaikan kepada anak Raudhatul Athfal Nurul Hilal Kota Juang Bireuen selalu panjang
dan terinci dengan menambahkan ilustrasi gambar dari buku yang dapat menarik
perhatian anak,maka teknik bercerita ini akan berfungsi dengan baik”.[4]
Mendengarkan cerita tanpa ilustrasi gambar menuntut pemusatan perhatian yang
lebih besar dibandingkan bila anak mendengarkan cerita dari buku bergambar.Untuk
menjadi seorang yang dapat bercerita dengan baik guru RA memerlukan persiapan
dan latihan. Penggunaan ilustrasi gambar dalam bercerita dimaksudkan untuk
memperjelas pesan-pesan yang dituturkan, dan untuk mengikat perhatian anak pada
jalannya cerita.
3)
Bercerita dengan Menggunakan Media Boneka
“Boneka sering dimaksudkan untuk dekorasi atau koleksi
untuk anak yang sudah besar atau orang dewasa. Namun, kebanyakan boneka
ditunjukan sebagai mainan untuk anak-anak terutama anak perempuan”.[5] Menurut
pengakuan Ibu Rahmah bahwa “pemilihan bercerita dengan menggunakan boneka akan tergantung
pada usia dan pengalaman anak. Biasanya boneka itu terdiri dari ayah, ibu, anak
laki-laki dan anak perempuan, nenek, kakek dan bisa ditambahkan anggota
keluarga yang lain. Boneka yang dibuat itu masing-masing menjukkan perwatakan
pemegang peran tertentu.Misalnya, ayah yang penyabar, ibu yang cerewet, anak
laki-laki yang pemberani, anak perempuan yang manja, dan sebagainya”.[6]
4)
Bercerita Sambil Memainkan Jari-jari Tangan
Lebih Lanjut Ibu Lisnur menjelaskan bahwa “bercerita sambil
memainkan jari tangan seperti dengan menggunakan sepuluh jari tangan, tangan
tersembunyi, mengatupkan jari tangan yang satu dengan yang lain, mengangkat jari
tangan, menurunkan jari tangan, menyilangkan jari tangan dan lain-lain”.[7]
5)
Bercerita dengan gambar
Bercerita dengan gambar adalah menuturkan sesuatu yang
mengisahkan tentang perbuatan atau sesuatu kejadian dan disampaikan melalui
gambar. Menurut pengakuan Ibu Rosmani, “bercerita dengan gambar sesuai dengan tahap
perkembangan anak, isinya menarik, mudah dimengerti dan membawa pesan, baik
dalam hal pembentukan prilaku positif maupun pengembangan kemampuan dasar”.[8]
[1] Karmilan Oviana, Normal False-False-false, Artikel diakses Tanggal
16 November 2015 dari http://karmilanoviana.blogspot.co.id/
[2] Rosmani, Kepala, Raudhatul Athfal Nurul Hilal
Kota Juang Bireuen, Wawancara di Raudhatul Athfal Nurul Hilal, 05 Oktober 2015.
[3] Mely, Strategi Pembelajaran Metode Bercerita, artikel diakses Tanggal 16 November 2015 dari
http://melyloelhabox.blogspot.co.id
[4] Kasmiati, Guru Raudhatul Athfal Nurul Hilal
Kota Juang Bireuen, Wawancara di Raudhatul Athfal Nurul Hilal, 05 Oktober
2015.
[5] Budiyanto, Metode Bercerita dengan Boneka Tangan, Artikel diakses Tanggal 16 November 2015 dari https://www.scribd.com
[6] Rahmah, Guru Raudhatul Athfal Nurul Hilal
Kota Juang Bireuen, Wawancara di Raudhatul Athfal Nurul Hilal, 06 Oktober
2015.

Post a Comment for "Media Metode Kisah"