Pelaksanaan Metode Kisah
A.
Pelaksanaan Metode Kisah
Berdasarkan observasi penulis di Raudhatul
Athfal Nurul Hilal bahwa “dalam
melaksanakan pembelajaran dengan metode kisah di Raudhatul Athfal Nurul Hilal, guru di sana melakukan beberapa persiapan. Diantaranya persiapan
pribadi dan persiapan teknis. Hal ini penting, karena tanpa persiapan,
pembelajaran dengan metode cerita ataupun metode-metode lainnya tidak dapat
berjalan sesuai dengan yang diinginkan”.[1]
Persiapan teknis yang dilakukan pendidik Raudhatul Athfal Nurul Hilal seperti keadministrasian (administrasi program tahunan, program semester,
satuan kurikulum mingguan, satuan kurikulum harian, absen kelas, daftar
perkembangan anak didik) merupakan keharusan jika dihadapkan pada target
pencapaian tujuan pembelajaran dengan metode cerita ini. Apa jadinya jika
pelaksanaan pembelajaran dengan metode cerita ini tak ada perencanaan seperti
SKM (Satuan Kurikulum Mingguan) dan sebagainya, semuanya akan kacau balau.
Kisah merupakan salah satu senjata Allah yang
dapat meneguhkan hati para walinya. Kisah merupakan pencerminan adab suatu kaum
yang mempunyai pengaruh yang besar dalam menarik perhatian dan meningkatkan
kecerdasan berfikir seorang anak karena memiliki keindahan dan kenikmatan
tersendiri. Keefektifan penerapan metode kisah harus didukung oleh keterampilan
guru dalam pengelolaan kelas, penggunaan sarana dan media pembelajaran.
Penerapan
metode kisah Islami
kami jadikan salah
satu alternatif metode pembelajaran yang digunakan dalam penanaman pendidikan
agama Islam, khususnya dalam penanaman nilai-nilai Pendidikan Agama Islam itu sendiri, penerapan metode
tersebut selain bisa cepat menyentuh di hati para siswa, metode kisah Islami juga
membuat siswa tidak akan cepat merasa bosan di dalam kelas, karena dalam metode
cerita Islami para siswa akan mengetahui gambaran tentang kisah para Nabi, sifat-sifat
para Nabi atau orang-orang terdahulu, yang dapat diambil pelajaran untuk
diterapkan dalam kehidupan seharihari dan yang akan sangat berpengaruh terhadap
perkembangan psikologis mereka nantinya.[2]
Salah satu metode yang paling efektif dari
berbagai metode adalah metode dengan
bercerita dengan tidak mengesampingkan peranan metode yang lain, yaitu cerita
yang didalamnya mengisahkan peristiwa sejarah hidup manusia masa lampau yang
mengangkut ketaatan/ kemungkaran dalam hidup perintah Tuhan yang dibawakan oleh
Nabi atau Rasul yang hadir di tengah mereka. Berikut kutipan hasil wawancara
dengan Ibu Kasmiati Guru Raudhatul Athfal Nurul Hilal sebagai berikut:
Dalam penerapan metode Kisah, selain menggunakan buku panduan dan mushaf,
saya juga menggunakan media lain seperti gambar dan media audio visual, hal ini
diharapkan agar para siswa dapat ikut aktif dalam menganalisis kisah-kisah yang
saya sampaikan dan kemudian diaplikasikan dalam kehidupannya. Jadi, menurut
analisis saya metode Kisah ini sangat efektif apabila diterapkan dalam
pembelajaran, atau bisa juga diterapkan pada materi pelajaran lain yang
memiliki relevansi dengan metode tersebut.[3]
Penerapan metode bercerita sebagai salah satu
aspek untuk penanaman nilai-nilai moral, hendaknya dapat menghadirkan
pengalaman baru yang memperkaya jiwa anak-anak kita. Jika kita pernah mendengarkan
kata mutiara, experience is the best teacher, kata itulah ungkapan yang
paling tepat diutarakan, bahwa pengalaman adalah guru terbaik dalam kehidupan.
Guru sebagai mediator dalam kegiatan belajar
mengajar memiliki peran yang sangat penting dalam menghadapi permasalahan yang
bisa terjadi selama proses pembelajaran dan memiliki tanggung jawab yang sangat
besar untuk keberhasilan peserta didik. Berikut hasil wawancara dengan Ibu
Lisnur, Guru Raudhatul Athfal Nurul Hilal bahwa: “Di samping faktor-faktor
pendukung seperti yang telah saya sebutkan, dalam penerapan metode ini juga terdapat
beberapa faktor penghambat, di antaranya adalah waktu yang sangat terbatas, jadi guru harus mengatur strategi
agar dalam waktu yang terbatas tersebut dapat menyampaikan materi secara
maksimal, sehingga metode yang digunakan dapat terlaksana secara efektif dan efisien”.[4]
Dalam penyampaian cerita yang baik, yang terpenting
adalah pengungkapan yang baik pula. Jika dilakukan dengan penuh kesabaran, sebuah
cerita akan dapat membangkitkan kehidupan yang baru, menambah nilai seni, dan
anak sebagai pendengar dapat menikmati. Menurut pengakuan Ibu Kasmiati, Guru
Raudhatul Athfal Nurul Hilal Kota Juang Bireuen menurut beliau:
Kegiatan bercerita kami manfaatkan untuk menanamkan kejujuran, keberanian,
kesetiaan, keramahan, ketulusan, dan sikap-sikap positif yang lain dalam
kehidupan lingkungan keluarga, sekolah, dan luar sekolah. Bermacam nilai sosial, moral, dan agama kami tanamkan
melalui kegiatan bercerita. Nilai-nilai sosial yang kami tanamkan kepada
santri Raudhatul Athfal Nurul Hilal Kota Juang
Bireuen yakni bagaimana seharusnya sikap seseorang dalam hidup bersama
dengan orang lain. Dalam hidup bersama orang lain harus ditanamkan sikap saling
menghormati, saling menghargai hak orang lain, saling membutuhkan, menyadari
tanggung jawab bersama, saling menolong, dan sebagainya.[5]
Kisah atau cerita sebagai suatu metode
pendidikan ternyata mempunyai daya tarik yang menyentuh perasaan. Islam
menyadari sifat alamiah manusia untuk menyenangi cerita itu, dan menyadari
pengaruhnya yang besar terhadap perasaan. Oleh karena itu Islam mengekploitasi
cerita tersebut untuk dijadikan salah satu metode pendidikan. Lebih lanjut Ibu Suryanti,
menjelaskan bahwa “melalui metode bercerita, anak-anak akan mudah memahami
sifatsifat, figur-figur dan perbuatan-perbuatan mana yang baik dan mana yang buruk.
Dengan bercerita pula orang tua (pendidik) dapat memperkenalkan akhlak dan
figur seorang muslim yang baik dan pantas sebagai contoh”.[6]
Demikian pula sebaliknya dengan bercerita
dapat berperan dalam proses pembentukan watak seorang anak, terlebih dalam
dunia pendidikan khususnya pendidikan Islam. Dengan cerita diharapkan anak
lebih menjadi lebih senang dan termotivasi untuk menjadi pemberani dan
menimbulkan daya kreatif dan lebih kaya imajinasi. Sebelum proses belajar
mengajar dilakukan, guru harus terlebih dahulu mempersiapkan perencanaan pengajaran agar materi
yang akan disampaikan kepada peserta didik sesuai dengan standar kompetensi yang ditetapkan dan terstruktur dengan baik.
Menurut pengakuan Lisnur, Guru Raudhatul
Athfal Nurul Hilal Kota Juang Bireuen bahwa:
Sebagai Raudhatul Athfal yang tumbuh dan bervisi islami, materi-materi Raudhatul
Athfal Nurul Hilal Kota Juang Bireuen sudah memenuhi kualifikasi materi yang
islami. Karena anak didik Raudhatul Athfal Nurul Hilal Kota Juang Bireuen adalah
cikal bakal generasi muda muslim, anak usia dini harus diberikan muatan-muatan
agama, dengan menggunakan paradigma Alquran dan hadits Nabi Saw., sehingga
dikenal istilah “kisah Qurani dan kisah Nabawi”. Kedua
sumber tersebut memiliki substansi cerita yang valid tanpa diragukan lagi
kebenarannya. Dalam pendidikan Islam, dampak edukatif cerita sulit digantikan
oleh bentuk-bentuk bahasa lainnya. Di mana, cerita atau kisah Alquran dan Nabawi
atau cerita-cerita islami
yang lain dapat membiaskan dampak psikologis dan edukatif yang baik, konstan,
dan cenderung mendalam sampai kapanpun.[7]
Hal lain yang menjadi nilai plus adalah, bahwa pendidik Raudhatul Athfal Nurul Hilal Kota Juang
Bireuen juga menggunakan teknik pre tes dalam
menyampaikan cerita. Ini digunakan untuk meneliti sejauh mana imajinasi dan
antusiasme anak didik serta membuka cerita, Karena membuka cerita merupakan
saat yang sangat menentukan. Dan sangat berperan, karena daya imajinasi anak
didik dapat berjalan optimal setelah adanya stimulus ini. Teknik membuka cerita
yang diupayakan pendidik Raudhatul Athfal Nurul Hilal Kota Juang Bireuen juga telah sesuai dengan teori-teori yang ada.
[1] Observasi Penulis di Raudhatul Athfal Nurul Hilal Kota Juang Bireuen,
Observasi di Raudhatul Athfal Nurul Hilal, 03 Oktober 2015.
[2] Lisnur, Guru Raudhatul Athfal Nurul Hilal Kota Juang Bireuen,
Wawancara di Raudhatul Athfal Nurul Hilal, 03 Oktober 2015.
[3] Kasmiati, Guru Raudhatul Athfal Nurul Hilal Kota Juang Bireuen, Wawancara
di Raudhatul Athfal Nurul Hilal, 02 Oktober 2015.
[4] Lisnur, Guru Raudhatul Athfal Nurul Hilal Kota Juang Bireuen, Wawancara
di Raudhatul Athfal Nurul Hilal, 03 Oktober 2015.
[5] Kasmiati, Guru Raudhatul Athfal Nurul Hilal Kota Juang Bireuen,
Wawancara di Raudhatul Athfal Nurul Hilal, 03 Oktober 2015.

Post a Comment for "Pelaksanaan Metode Kisah"