Pendidikan Ukhuwah islamiyah
1. Pendidikan
Ukhuwah islamiyah
Dalam islam ,
pendidikan ukhuwah islamiyah merupakan suatu pendidikan yang sangat
penting di terapkan dalam kehidupan karena itu merupakan bagian dari inti
ajaran islam yang dibawa oleh seluruh para Nabi dan Rasul. Ini dapat kita
perhatikan tentang pentingnya ukhuwah islamiyah seperti firman Allah didalam Al-qur’an
surat Al –
hujurat ayat 10:
إِنَّمَا
الْمُؤْمِنُونَ إِخْوَةٌ فَأَصْلِحُوا بَيْنَ أَخَوَيْكُمْ وَاتَّقُوا اللَّهَ
لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ). الحجرات:١٠(
Artinya: Hanyasanya kaum mu'minin itu adatah
sebagai saudara, maka damaikanlah antara
kedua saudaramu. (al-Hujurat: 10)
Disamping dari pada itu juga kita
dapat melihat pentingnya ukhuwah ini seperti di jelaskan oleh Rasulullah
dalam Sabdanya:
عن أبي حمزة أنس بن مالك رضي الله عنه –خادم رسول اله صلى الله عليه وسلم
قال " لا يؤمن أحدكم حتى يحب لأخيه ما يحب لنفسه (
رواه :
البخاري و مسلم )
Artinya: Dari Abu Hamzah, Anas bin Malik radhiyAllahu
anhu, pelayan Rasulullah ShallAllahu ‘alaihi wa Sallam, dari Nabi ShalAllahu
‘alaihi wasallam, beliau bersabda: “Tidak beriman seseorang di antara kamu
sehingga ia mencintai milik saudaranya (sesama muslim) seperti ia mencintai
miliknya sendiri. (HR. Bukhari dan Muslem).[1]
Demikianlah di
dalam Shahih Bukhari, digunakan kalimat “milik saudaranya” tanpa kata yang
menunjukkan keraguan. Di dalam Shahih Muslim disebutkan “milik saudaranya atau
tetangganya” dengan kata yang menunjukkan keraguan. Para
ulama berkata bahwa “tidak beriman” yang dimaksudkan ialah imannya tidak
sempurna karena bila tidak dimaksudkan demikian, maka berarti seseorang tidak
memiliki iman sama sekali bila tidak mempunyai sifat seperti itu. Maksud
kalimat “mencintai milik saudaranya” adalah mencintai hal-hal kebajikan atau
hal yang mubah. Hal ini ditunjukkan oleh riwayat Nasa’i yang berbunyi :
“Sampai ia mencintai kebaikan untuk saudaranya seperti mencintainya untuk dirinya sendiri”. Abu ‘Amr bin Shalah berkata : “ Perbuatan semacam ini terkadang dianggap sulit sehingga tidak mungkin dilakukan seseorang. Padahal tidak demikian, karena yang dimaksudkan ialah bahwa seseorang imannya tidak sempurna sampai ia mencintai kebaikan untuk saudaranya sesama muslim seperti mencintai kebaikan untuk dirinya sendiri. Hal tersebut dapat dilaksanakan dengan melakukan sesuatu hal yang baik bagi diriya, misalnya tidak berdesak-desakkan di tempat ramai atau tidak mau mengurangi kenikmatan yang menjadi milik orang lain. Hal-hal semacam itu sebenarnya gampang dilakukan oleh orang yang berhati baik, tetapi sulit dilakukan orang yang berhati jahat”. Semoga Allah memaafkan kami dan saudara kami semua.
“Sampai ia mencintai kebaikan untuk saudaranya seperti mencintainya untuk dirinya sendiri”. Abu ‘Amr bin Shalah berkata : “ Perbuatan semacam ini terkadang dianggap sulit sehingga tidak mungkin dilakukan seseorang. Padahal tidak demikian, karena yang dimaksudkan ialah bahwa seseorang imannya tidak sempurna sampai ia mencintai kebaikan untuk saudaranya sesama muslim seperti mencintai kebaikan untuk dirinya sendiri. Hal tersebut dapat dilaksanakan dengan melakukan sesuatu hal yang baik bagi diriya, misalnya tidak berdesak-desakkan di tempat ramai atau tidak mau mengurangi kenikmatan yang menjadi milik orang lain. Hal-hal semacam itu sebenarnya gampang dilakukan oleh orang yang berhati baik, tetapi sulit dilakukan orang yang berhati jahat”. Semoga Allah memaafkan kami dan saudara kami semua.
Abu Zinad berkata :
“Secara tersurat Hadits ini menyatakan hak persaman, tetapi sebenarnya manusia
itu punya sifat mengutamakan dirinya, karena sifat manusia suka melebihkan
dirinya. Jika seseorang memperlakukan orang lain seperti memperlakukan dirinya
sendiri, maka ia merasa dirinya berada di bawah orang yang diperlakukannya
demikian. Bukankah sesungguhnya manusia itu senang haknya dipenuhi dan tidak
dizhalimi? Sesungguhnya iman yang dikatakan paling sempurna ketika seseorang
berlaku zhalim kepada orang lain atau ada hak orang lain pada dirinya, ia
segera menginsafi perbuatannya sekalipun hal itu berat dilakukan.
Diriwayatkan bahwa
Fudhail bin ‘Iyadz, berkata kepada Sufyan bin ‘Uyainah : “Jika anda
menginginkan orang lain menjadi baik seperti anda, mengapa anda tidak
menasihati orang itu karena Allah. Bagaimana lagi kalau anda menginginkan orang
itu di bawah anda?” (tentunya anda tidak akan menasihatinya).
Begitu juga kita
lihat para Ashhabul Kahfi yang mereka saling mencintai karena Allah dan
menolong antara sesame kaum yang beriman dan seperjuangan dengannya. Mereka merupakan orang yang beriman kepada Allah
dan Allah telah member petunjuk kepada mereka seperti didalam firmannya dalam surat Al-kahfi
ayat 9- 10:
أَمْ حَسِبْتَ أَنَّ أَصْحَابَ الْكَهْفِ وَالرَّقِيمِ كَانُوا
مِنْ آيَاتِنَا عَجَباً, إِذْ
أَوَى الْفِتْيَةُ إِلَى الْكَهْفِ فَقَالُوا رَبَّنَا آتِنَا مِن لَّدُنكَ رَحْمَةً وَهَيِّئْ لَنَا مِنْ أَمْرِنَا رَشَداً )الكهف : ١٠-
٩ (
Artinya: Atau kamu mengira bahwa orang-orang yang
mendiami gua dan (yang
mempunyai) raqim itu, mereka termasuk tanda-tanda kekuasaan Kami yang mengherankan?. (Ingatlah)
tatkala pemuda-pemuda itu mencari tempat berlindung ke dalam gua lalu mereka
berdo`a: "Wahai Tuhan kami berikanlah
rahmat kepada kami dari sisi-Mu dan sempurnakanlah bagi kami petunjuk yang
lurus dalam urusan kami (ini).(Qs. Al-Kahfi: 9 – 10)
Dari ayat di atas
menjadi pelajaran penting bagi kita bahwa, ketika kita beriman kepada Allah dan
berdo’a kepada-Nya ketika dalam kesusahan maka Allah akan mengabulkan do’a kita
dan akan dianugerahi sesuatu yang lebih baik bagi kita untuk dunia dan akhirat.
Disamping dari pada
itu kita dapat melihat bagaimana ukhuwah diantara mereka dalam berjuang dan
mempertahankan kebenaran secara bersama sama dan memutuskan untuk meninggalkan
istana juga dengan kebersamaan. Itu mereka lakukan sebagai langkah terakhir
karena mereka tidak sanggup lagi menda’wahkan pemimpin mereka yang dhalim dan
menindas orang yang beriman. Nabi kita juga menganjurkan kepada kita unutuk uzlah
ketika da’wah tidak diterima lagi dan manusia sudah sangat dhalim seperti dalam
sabdanya:
وعن أبي سعيد الخدري رَضِيَ اللَّهُ عَنهُ قال، قال رجل: أي الناس أفضل يا رَسُول اللَّهِ؟ قال: <مؤمن مجاهد بنفسه وماله في سبيل اللَّه) قال: ثم من؟ قال: (ثم رجل معتزل في شعب من الشعاب يعبد ربه> وفي رواية <يتقي اللَّه ويدع الناس من شره) مُتَّفَقٌ عَلَيهِ.(
Artinya: Dari
Abu Said al-Khudri r.a., katanya: "Ada
seorang lelaki berkata: "Manakah orang yang paling utama itu, ya
Rasulullah?" Beliau s.a.w.
bersabda: "Iaitu seorang mu'min yang berjihad dengan badannya dan hartanya
fi-sabilillah."Kemudian orang itu bertanya lagi: "Selanjutnyasiapakah?"
Beliau s.a.w. bersabda: "Kemudian seorang yang memencilkan dirinya dalam
suatu jalanan di gunung - maksudnya suatu tempat di antara dua gunung yang
dapat digunakan sebagai kediaman - dari beberapa tempat di gunung, untuk
menyembah kepada Tuhannya." Dalam riwayat lain disebutkan: "Kerana ia
bertaqwa kepada Allah dan meninggalkan para manusia dari keburukannya diri
sendiri" - jadi mengasingkan diri dari orang banyak, sehingga tidak akan
sampailah keburukannya diri sendiri itu kepada orang-orang banyak tadi. (HR.
Muttafaq 'alaih).[3]
Itulah akhir dari
perjuangan seorang mukmin apabila tidak sanggup lagi bertahan seperti yang
dialami oleh para ashhabul kahfi. Yang Allah kisahkan didalam Al-qur’an yang
menjadi pelajaran bagi kita semua.

Post a Comment for "Pendidikan Ukhuwah islamiyah"