Pokok Ajaran dan Dasar Syi’ah
BAB I
P EN D A H U L U A N
A.
Latar
Belakang Masalah
Dalam beragama, seseorang ataupun
suatu kelompok sering dihadapkan pada pilihan yang amat perlu dikaji secara
matang. Masalah tersebut dapat muncul dari berbagai bidang, di antaranya
keyakinan aliran, persaingan politik, dan lain sebagainya. Menurut Ibn Khaldun,
sebagaimana dikutip A.Hanafi, Ilmu Kalam ialah ilmu yang berisi alasan-alasan
yang mempertahankan kepercayaan-kepercayaan iman dengan menggunakan dalil-dalil
pikiran dan berisi bantahan terhadap orang-orang yang menyeleweng dari
kepercayaan-kepercayaan aliran golongan salaf dan Ahli Sunnah.[1]
Aliran Syi’ah adalah salah satu
kelompok dalam sejarah pemikiran Islam merupakan sebuah aliran yang muncul
dikarenakan gejolak politik dan seterusnya berkembang menjadi aliran teologi
dalam Islam.Syi’ah dikenal sebagai sebuah aliran teologi dalam Islam, yaitu
ketika mereka mencoba mengkaitkan iman dan kafir dengan Imam, atau dengan kata
lain ketaatan pada siorang Imam merupakan tolak ukur beriman tidaknya seseorang,
di samping paham mereka bahwa Imam merupakan wakil Tuhan serta mempunyai sifat
ketuhanan.
Makalah ini dibuat bertujuan untuk
menjelaskan bagaimana latar belakang munculnya aliran Syiah yang diperjuangkan
oleh tokoh-tokohnya dengan Pokok ajaran dan dasar serta pengaruh pemikirannya,
sikap teologis rasionalnya yang didasari oleh Al- Ushul al- Khamsah Syiah.
Harapan penulis, kiranya dengan adanya
sedikit uraian tentang golongan Syi’ah ini akan lebih menambah wawasan dan
kecintaan kita terhadap khazanah peradaban dan pemikiran-pemikiran dalam Islam
terkhusus hal-hal yang berkenaan dengan golongan Syiah.
BAB II
PEMBAHASAN
A.
Sejarah Munculnya Syi’ah
Munculnya Syi’ah dalam beberapa
pendapat di kalangan para ahli ilmu kalam memang terdapat sedikit perbedaan.
Namun dari sekian pendapat-pendapat yang disampaikan secara garis besar akan
mengarah kepada satu kesamaan tentang bagaimana golongan Syi’ah ini muncul. Syi’ah
berarti pengikut (pendukung paham). Dipakai kata ini untuk satu orang, dua
orang atau banyak orang, baik lelaki ataupun perempuan. Kemudian kata ini
dipakai secara khusus buat orang yang mengangkat Ali dan keluarganya untuk
menjadi khalifah dan berpendapat bahwa Ali dan keluarganyalah yang berhak
menjadi khalifah.[2]
Adapun teori adanya “teks" akan
haknya menduduki kekhalifahan dan usaha untuk memberi dalil terhadap restriksi
hak berkuasa padanya dan keluarganya, hanya mengakui hubungan kerabat saja,
dengan menggunakan hadits-hadits yang diriwayatkan dan ayat-ayat yang
ditafsirkan, maka ini merupakan hal yang tidak pernah kita dengar pada periode
ini, bahkan tidak pernah ada sama sekali. Hal ini merupakan kaidah dasar
berdirinya mazhab Partai Syi’ah dalam dimensi historis teknisnya.[3].
Ali Hasan menyebutkan bahwa Mazhab
ahlul bait adalah mazhab yang lebih dahulu lahir dalam sejarah, karena bukan
imam Ash-Shadiq yang meletakkan batu pertama dan menaburkan benihnya, melainkan
Rasul sendiri. Mazhab ini lahir pada masa Nabi dan Iman pertama Ali bin Abi
Thalib.[4]
Secara historis, akar aliran Syi’ah terbentuk
segera setelah kematian Nabi Muhammad, yakni ketika Abu Bakar terpilih sebagai
khalifah pertama pada pertemuan tsaqifah yang diselenggarakan di Dar al-Nadwa,
di Madinah.. Dalam pertemuan itu Ali tidak hadir karena sibuk mengurus jenazah
Nabi. Namun ada juga yang berpendapat bahwa Syi’ah benar-banar muncul ketika
berangsung peperangan antara Ali dan Muawiyah, yang dikenal dengan perang
Shifin, Dari kalangan syi’ah sendiri berpendapat bahwa, kemunculan syi’ah
berkaitan dengan masalah siapa yang berhak menggantikan Nabi dalam memimpin
umat. Akan tetapi golongan syi’ahlah yang menentukan bahwa Imam Ali-lah yang
berhak memegang jabatan khalifah, sesudah Nabi.. Setelah Ali menjadi khalifah
dan rakyat mengakuinya, nyatalah pada mereka bahwa Ali adalah orang yang besar,
berilmu dan mempunyai agama yang kuat. Berdasarkan realitas itulah, muncul
dikalangan sebagian kaum mukmin yang menentang dan menolak kekhalifahan dari
kaum tertentu. Mereka tetap berpandapat bahwa Nabi dan penguasa keagamaan yang
sah adalah Ali. Mereka berkeyakinan bahwa semua perasaan kerohanian dan agama
harus merujuk kepadanya serta mengajak masyarakat untuk mengikutinya.
Perbedaan pedapat dikalangan para
ahli ilmu kalam mengenai Syi’ah. Para
ahli berpegang teguh pada fakta sejarah, perpecahan memang mulai mencolok pada
msa pemerintahan Usman bin Affan dan memperoleh momentumnya yang paling kuat
pada masa pemerintahan Ali bin Abi Thalib tepatnya setelah perang Shifin.
Adapun kaum Syi’ah, berdasarkan Hadist-hadist
yang mereka terima dari ahli bait, berpendapat bahwa perpecahan itu
sudah mulai ketika Nabi SAW wafat dan kekhalifahan jatuh ketangan Abu Bakar.
Segara setelah itu terbentuklah syi’ah. Bagi mereka pada masa pemerintahan
Khulafaur Rasyidin sekalipun, kelompok Syi’ah sudah ada. Mereka bergerak
dibawah permukaan untuk mengajarkan dan menyebarkan doktrin-doktrin Syiah pada
masyarakat. Tampaknya Syi’ah sebagai salah satu faksi Islam yang bergerak
seecara terang-terangan, memang baru muncul pada masa kekholifahan Ali bin Abi
Thalib, sedangkan Syi’ah sebagai doktrin yang diajarkan secara diam-diam oleh
ahli bait.
Dari pengertian di atas dapat diambil
suatu pengertian mengenai Syi’ah yakni golongan umat Islam yang terlampau
mengagungkan keturunan Nabi. Mereka mendahulukan keturunan Nabi, untuk menjadi
khalifah. Dalam hal ini golongan syi’ah menetapkan bahwa Imam Ali-lah yang
paling berhak memegang jabatan kholifah setelah Nabi. Tapi Ali membantah dengan
adanya pendapat seperti itu, karena jabatan kholifah tidak hany dipegang oleh
orang-orang yang menjadi keturunan Nabi, melainkan orang-orang yang berhak,
mampu dalam memimpin serta telah disepakati oleh ummat.
Pada umumnya tokoh yang dianggap
sebagai pendiri Syi’ah adalah Abdullah Ibn Saba, seoraing pendeta Yahudi yang
masuk Islam pada zaman Khalifah Khalifah Utsman ibn Affan. Dalam sejarah
berkembangnya kaum Syi’ah ada berberapa mutakallim yang banyak mempengaruhinya
di antaranya Muahmmad ibnun Nu’man yang digelari Mukmin att-Thaq (gelombang
orang beriman di kawasan itu) oleh Syi’ah, dan Setan ath-Thaq (si setan besar
di kawasan itu ) oleh Ahlush Sunnah-ath-Thaq adalah nama tempat di Baghdad[5].
Dia adalah seorang pemimpin Imamiah, seperti juga Hisyam, yang menjadi
propagandis mazhab mereka, dan banyak menulis banyak buku tentang itu[6]. Mutakallim
lain yang sering disebut-sebut masyhur dalam Syi’ah adalah Yunus bin Abdur
Rahman al-Qimmi, keluarga Naubakht keturunan Persia- yang dipelopori oleh Abu
Sahal an-Naubakhti yang banyak mengarang buku, di antaranya kitab al-Itstifaa’
fil Imamah, kitab Ibthal al Qiyas, dan lalin-lain.
B. Pokok Ajaran dan Dasar
Syi’ah
Inti ajaran Syi’ah adalah berkisar
masalah khilafah, jadi masalah politik yang hakhirnya berkembang dan bercampur
dengang masalah-masalah agama. Ajaran-ajarannya yang terpenting yang berkaitan
dengan khilafah ialah Al-Ishmah, Al-mahdi, At-Taqiyyah, dan Ar-Raj’ah.[7]
Kaum Syi’ah memiliki 5 pokok pikiran
utama yang harus dianut oleh para pengikutnya diantaranya yaitu at Tauhid, al
‘Adl, an Nubuwah, al Imamah dan al Ma’ad.
- At tauhid
Kaum Syi’ah meyakini bahwa Allah Swt itu
Esa, tempat bergantung semua makhluk, tidak beranak dan tidak diperanakkan dan
juga tidak serupa dengan makhluk yang ada di bumi ini.
- Al ‘adl
Kaum Syi’ah memiliki keyakinan bahwa
Allah memiliki sifat Maha Adil. Tuhan selalu melakukan perbuatan yang baik dan
tidak melakukan apapun yang buruk.Tuhan juga tidak meninggalkan sesuatu yang
wajib dikerjakanNya.
- An Nubuwwah
Kepercayaan kaum Syi’ah terhadap
keberadaan Nabi juga tidak berbeda halnya dengan kaum muslimin yang lain.
Menurut mereka Allah mengutus nabi dan rasul untuk membimbing umat manusia.
Rasul-rasul itu memberikan kabar gembira bagi mereka-mereka yang melakukan amal
shaleh dan memberikan kabar siksa ataupun ancaman bagi mereka-mereka yang
durhaka dan mengingkari Allah Swt.
- Al Imamah
Bagi kaun Syi’ah imamah berarti
kepemimpinan dalam urusan agama sekaligus dalam dunia.Ia merupakan pengganti
Rasul dalam memelihara syari’at, melaksanakan hudud (had atau hukuman terhadap
pelanggar hukum Allah), dan mewujudkan kebaikan serta ketentraman umat. Bagi
kaum Syi’ah yang berhak menjadi pemimpin umat hanyalah seorang imam dan itu
hanya ada pada keturunan Nabi Muhammad.
- Al Ma’ad
Secara harfiah al ma’dan yaitu tempat
kembali, yang dimaksud disini adalah akhirat. Kaum Syi’ah percaya sepenuhnya
bahwa hari akhirat itu pasti terjadi. Menurut keyakinan mereka manusia kelak
akan dibangkitkan, jasadnya secara keseluruhannya akan dikembalikan ke asalnya
baik daging, tulang maupun ruhnya. Dan pada hari kiamat itu pula manusia harus
memepertanggungjawabkan segala perbuatan yang telah dilakukan selama hidup di
dunia di hadapan Allah Swt. Pada saaat itu juga Tuhan akan memberikan pahala
bagi orang yang beramal shaleh dan menyiksa orang-orang yang telah berbuat
kemaksiatan.
Syi’ah terpecah dalam berpuluh-puluh
kelompok. Perpecahan itu disebabkan oleh berbagai factor: karena perbedaan
prinsip dan ajaran yang berakibat timbulnya kelompok yang ekstrem (al-Ghulat)
dan kelompok moderat; karena perbedaan pendirian tentang siapa yang harus
menjadi imam sepeninggal Husein bin Ali, Imam ketiga, sesudah Ali Zainal
Abidin, Imam keempat, dan ssesudah Ja’far Shadiq, Imam keenam. Dari
kelompok-kelompok tersebut yang paling terkenal Its Asyariyah termasuk Syi’ah
Imamiyah.[8]
Imamiyah Itsna Asyariah kiranya
merupakan kelompok Syi’ah yang paling besar pengikutnya, Golongan Syi’ah yang
ada di Irak, Iran dan sekitar Teluk itu hampir seluruhnya dari Itsna Asyrariyah.[9] Dalam perjalanan sejarah perkembangan aliran
Syi’ah terdapat banyak sekte-sekte dengan paham yang berbeda. Salah satunya
yang dikemukakan oleh Yusran Asmuni menyebutkan bahwa sekte-sekte yang terdapat
dalam aliran Syiah ada 22 sekte. Seperti di antaranya Sabiyah Kaisaniyah,
Imamiyah, Ismailiyah, Zaidiyah, Qaramithah, dan lain-lain[10].
Dari banyaknya aliran-aliran yang ada,
penulis mengemukakan beberapa aliran yang sering disebutkan dan memiliki
pengaruh yang kuat dalam perkembangan aliran Syi’ah ini. Di antaranya yaitu:
- Syi’ah Sab’iyah (Syi’ah Tujuh)
Adalah golongan yang mengikuti
Abdullah bin Saba’. Aliran Sab’iyah hanya mengakui tujuh Imam, yaitu Ali,
Hasan, Husein, Ali Zainal Abidin, Muhammmad Al-Baqir, Ja’far As-Shodiq, dan
Ismail bin Ja’far. Amin Nurdin menyebutkan bahwa mengenai sifat Allah, Sabi’yah
meniadakan sifat dari dzat Allah. Penetapan sifat menurutnya merupakan
penyamaan dengan makhluk.
- Syi’ah Imamiyah
Dinamakan Syi’ah Imamiyah, karena yang
menjadi dasar aqidahnya adalah persoalan Imam dalm arti pemimpin religio
politi, yakni Ali berhak menjadi khalifah bukan hanya kecakapannya atau
kemuliannya, melainkan ia teleh ditunjuk nas dan pantas menjadi khalifah
pewaris kepemimpinan Nabi Muhammad SAW. Syi’ah Imamiyah disebut juga Syi’ah
Itsna Asyariah, Yang mengakui penerima wasiat Nabi Muhammad adalah Ali bin Abi
Thalib, Hasan bin Ali, Husein bin Ali, Ali Zainal Abidin, , Muhammad Al-Baqir,
Abdullah Ja’far Ash-Shadiq, Musa Al-Kahzim, Ali Ar-Rida, Muhammad Al-Jawwad,
Ali Al-Hadi, Hasan Al-Askari, dan Muhammad Al-Mahdi sebagai imam
yang ke dua belas.
- Syi’ah Zaidiyah
Disebut Zaidiyah karena golongan ini
mengakui Zaid bin Ali sebagai imam kelima doktrin-doktrinnya adalah mereka
tidak meniggikan kedudukan imam dari pada Nabi, bahkan mereka berpendapat bahwa
imam itu sama atau setara dengan manusia yang lain. Mereka menolak pandangan
yang menyatakan bahwa seoarang imam yang mewarisi kepemimpinan Nabi Saw telah
ditentuka nama dan orangnya oleh Nabi, tetapi hanya ditentukan sifat-sifatnya
saja. Mereka juga berkeyakinan bahwa orang yang melakukan dosa besar akan kekal
dalam neraka, jika a belum bertaubat dengan pertaubatan yang sesungguhnya[11].
- Syi’ah Ghulat
Istilah ghulat berasal dari kata ghala
artinya bertambah dan naik. Abu Zahrah menjelaskan bahwa golongan ini adalah
kelompok yang menempatkan Ali pada derajat ketuhanan dan ada yang mengangkat
paa derajat kenabian, bahkan lebih tinggi dari Nabi Muhammad. Gelar ekstrim
yang diberikan pada kelompok ini berkaitan dengan pendapatnya ang janggal
yaitu,ada beberapa orang yang khusus dianggap Tuhan dan juga ada beberapa orang
yang dianggap Rasul setelah Nabi Muhammad.
Walaupun dalam Syi’ah terdapat
beberapa aliran, namun pokok-pokok paham mereka dapat disimpulkan sebagai
berikut:
- Hak Kekhalifaan sesudah Rasulullah adalah Ali
ibn Abi Thalib, karena itu kekhalifaan Abu Bakar, Umar dan Utsman bukan
hak mereka.
- Khalifah – dalam istilah mereka iman – harus
ditunjuk oleh Nabi.
- Imam adalah Ma’shum, tidak berdosa dan tidak
boleh diganggu gugat[12].
C. Dokrin Teologi Syi’ah
Kaum Syi’ah berpandangan dalam
mengenal Tuhan menjadikan manusia dalam berkehidupan, ada beberapa konsep yang
diungkapkan oleh beberapa pemukanya. Di antaranya Hisyam bin Al-Hakam yang
menganggap bahwa manusia memiliki kekuatan tertentu sebelum perbuatan itu
sendiri, seperti kesehatan, kekuatan fisik, dan lain-lain. Artinya manusia
mempunyai wilayah untuk menentukan atau mempengaruhi bagaimana tentang apa yang
akan datang kepadanya.
At-Tusi, dalam ringkasannya yang
dikenal tentang teologi, kitab at-Tajrid, sebuah karya yang mendapat berbagai
komentar dari tiolog-tiolog Syi’ah dan Sunni dan diajarkan di lembaga-lembaga pengajaran Sunni dan
Syi’ah, dengan jelas menyatakan bahwa manusia adalah “pencipta” perbuatannya
sendiri[13].
Pendapat ini sangat ingin menekankan akan besarnya peran manusia untuk
menentukan hidupnya sendiri.
Dari pendapat-pendapat yang
dikemukakan, bila dicermati ternyata semuanya akan merujuk pada pandangan umum yang muncul yaitu bahwa
pada tuhan dan manusia ada proses determinasi yang parallel. Jadi, seperti yang
telah kita lihat, pada manusia ada faktor-faktor kesehatan, organ fisik yang
bersangkut paut, ketiadaan rintangan dan
akhirnya ada dorongan yang memaksa
(mubayyij), pada Tuhan ada proses yang ,terdiri dari keinginan umum
(masyi’a), keinginan yang kuat (irada) ukuran (waktu dan tempat yang disebut
qadar) dan akhirnya, determinasi yang tidak dapat dibatalkan (qada). Tampak
bahwa pada akhir proses ketika perbuatan benar-benar terjadi, ada penggabungan
determinasi Tuhan dan keinginan manusia, Karena itu, perbuatan itu adalah
bentuk kolaborasi antara manusia dan Tuhan.
D. Pengaruh Pemikiran Syi’ah
dalam Dunia Islam
Syi’ah bukanlah kata atau nama yang
asing di telinga, karena nama ini sangat sering kita dengar. Nama ini juga
tidaklah berbahaya seperti yang pernah pernah diutarakan oleh beberapa
pendapat, melainkan menunjukkan tradisi keilmuan yang tinggi sebagaimana yang
dikembangkan. Kesemua fakta ini menunjukkan kenyataan terjadinya proses
peleburan antara Syi’ah dengan kebudayaan di tiap-tiap tempat, di antaranya
ialah Indonesia yang sudah berlangsung sejak masuknya Islam ke nusantara
Keberhasilan Revolusi Islam Iran yang
terinspirasi dari doktrin-doktrin Islam Syiah, dalam banyak hal menghembuskan
angin perubahan. Tidak hanya di dalam negeri Iran, peta politik di Timur
Tengah, namun juga memberikan pengaruh yang tidak sedikit pada pergulatan
pemikiran di Indonesia. Tentang pengaruh revolusi Iran, Dr Richard N Frye, ahli
masalah Iran di Universitas Harvard, berkomentar: "Revolusi Islam di Iran
bukan hanya titik-balik dalam sejarah Iran saja. Revolusi itu juga merupakan
satu titik-balik bagi rakyat di seluruh negara- negara Islam, bahkan bagi massa
rakyat di dunia ketiga"
Pemikiran tokoh-tokoh di balik
Revolusi Islam Iran, seperti Ayatullah Khomenei, Syahid Muthahari, Dr. Ali
Syariati, dan Allamah Thabathabai serta merta menjadi kiblat politik alternatif
bagi cendekiawan dan para pemikir Islam di Indonesia. Karenanya, tidak
mengherankan jika kita dengan mudah menemukan intelektual Indonesia dengan
begitu fasih mengutip transkrip-transkrip pemikiran Ali Syari'ati, Muthahhari
atau pemikir-pemikir Syi'ah lainnya. Bukan hanya Jalaluddin Rahmat yang
mendapat gelar Syi’ah hanya karena menamakan yayasan yang didirikannya: Yayasan
Muthahhari. Amien Rais pernah menerima gelar Syi'ah juga, karena dalam banyak
kesempatan, ia sering mengutip Ali Syari'ati bahkan juga menyempatkan diri
menerjemahkan karya tulis Ali Syariati. Masuknya karya-karya para pemikir Iran
di Indonesia menjadi oase bagi banyak intelektual Indonesia. Kajian filsafat,
misalnya, yang dalam diskursus pemikiran Syi’ah tidak pernah terputus.[14]
BAB III
P E N U T U P
Berdasarkan uraian
yang telah penulis uraikan diatas, maka penulis dapat mengambil beberapa
kesimpulan dan saran – saran sebagai berikut:
A. Kesimpulan
A. Kesimpulan
1. Munculnya aliran Syi’ah
adalah satu bentuk ketidakpuasan kelompok kaum muslimin pada penguasa yang di
luar dari keturunan Nabi Muhammad. Mereka
berkeyakinan bahwa khalifah sepeninggal Nabi haruslah keturunan dari
Fatimah.
2. Beberapa tokoh Syi’ah di
antaranya: Abdullah Ibn Saba, Muahmmad ibnun Nu’man yang digelari Mukmin
att-Thaq Yunus bin Abdur Rahman al-Qimmi, keluarga Naubakht keturunan Persia-
yang dipelopori oleh Abu Sahal an-Naubakhti.
3. Kaum Syi’ah memiliki 5 pokok
pikiran utama yang harus dianut oleh para pengikutnya diantaranya yaitu at
Tauhid, al ‘Adl, an Nubuwah, al Imamah dan al Ma’ad. Dalam kekhalifaan paham
mereka adalah hak Kekhalifaan sesudah
Rasulullah adalah Ali ibn Abi Thalib, Khalifah – dalam istilah mereka iman –
harus ditunjuk oleh Nabi, dan Imam adalah Ma’shum.
4. Dalam Aliran Syi’ah terdapat
banyak sekte-sekte, namun di antaranya yang sangat berpengaruh ada empat, yaitu
Sab’iyah (Syi’ah Tujuh), Imamiyah/ Itsna Asy’ariyah, Zaidiyah, dan Ghulat.
5. Sikap teologis rasional
Syi’ah bahwa dalam hidupnya manusia mendapatkan arah hidupnya ditentukan oleh
Tuhan dan keinginan manusia, Karena itu, perbuatan itu adalah bentuk kolaborasi
antara manusia dan Tuhan.
B. saran - saran
1. Disarankan kepada para mahasiswa/I untuk
memperdalam ilmu pengetahuan terutama tentang ilmu kalam, karena dengan mempelajari ilmu kalam kita akan
mengenal secara detail perbedaan
dalam islam.
2. Disarankan kepada para
mahasiswa/I untuk memperbanyak membaca, karena dengan banyak membaca banyak
ilmu yang kita dapatkan.
3. Disarankan kepada mahasiswa
untuk dapat menjadi tauladan dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara.
DAFTAR PUSTAKA
Abuddin Nata, Metodologi Studi Islam, Jakarta: Rajawali Pers, 2009.
Tengku Muhammad
Hasbi Ash-Shiddieq, Ilmu Tauhid/Kalam, Semarang: Pustaka
Rizki Putra, 2009.
Dhiauddin Rais,
Teori Politik Islam, Jakarta: Gema Insani Press, 2001.
Ali Hasan M, Perbandingan
Mazhab, Jakarta:
PT Raja Grafindo Persada, 2003
Yusran Asmuni, Dirasah
Islamiyah II, Jakarta: PT Raja Grafindo Persada,1993.
Sahilun
A.Nasir, Pengantar Ilmu Kalam, Jakarta:
PT. Raja Grafindo Persada,1994.
Munawir Sjadzali,
Islam dan Tata Negara, Jakarta: UI
Press, 2003.
Fazlur Rahman, Gelombang
Perubahan Dalam Islam, Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2000.
[2] Tengku Muhammad Hasbi Ash-Shiddieq, Ilmu Tauhid/Kalam, (Semarang: Pustaka Rizki Putra, 2009), hal. 209.
[6] Dhiauddin Rais, Teori Politik..., hal. 64.
[7] Sahilun A.Nasir, Pengantar Ilmu Kalam, (Jakarta: PT. Raja Grafindo
Persada,1994), hal. 81.
[9] Ibid., hal. 214.
[13] Fazlur Rahman, Gelombang Perubahan Dalam Islam, (Jakarta: Raja Grafindo
Persada, 2000), hal. 92.

Post a Comment for " Pokok Ajaran dan Dasar Syi’ah"