Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Prinsip Mendidik Anak Sebelum Lahir


A.    Prinsip Mendidik Anak Sebelum Lahir

Bila orang tua memiliki anak shalih, berbudi luhur dan bertakwa serta bermanfaat untuk dirinya, agama dan umatnya maka hendaknya anda mendidik anak tersebut dengan pendidikan Islam yang benar sebab pendidikan yang benar mulai sebelum lahir bahkan sebelum menikah, sebaiknya mengikuti manhaj dan ajaran pendidik mulia dalam berbagai hal baik yang benar dan yang kecil dalam soal mendidik anak[1].
Mendidik anak shalih sebelum lahir laksana menanam tanaman maka siapa yang menginginkan tanamannya tumbuh subur dan membuahkan hasil yang memuaskan sehingga membuat hati senang dan damai maka hendaklah mempersiapkan dan memilih manhaj pendidikan yang terbaik dan benar sehingga mampu menumbuhkan dan memberikan hasil yang menyenangkan[2]. Tanah adalah asas paling utama dan yang paling menentukan keberhasilan dalam bercocok tanam, yang tidak lain adalah seorang isteri yang shalihah yang akan menjadi ibu bagi anak insya Allah maka dialah yang akan mengurusi tanaman dan menentukan kesuburan tanaman tersebut. Dialah yang akan mendidik anak-anak anda di atas belaian kasih sayang Islam dan nilai mulia syariat sehingga membuahkan hasil takwa dan komitmen kepada Islam.
Mempersiapkan tanah yang subur dan bagus merupakan dasar utama untuk memulai proses pendidikan yang benar dalam Islam, maka Islam adalah agama keluarga sementara keluarga adalah bibit masyarakat[3]. Apabila keluarga terbangun di atas Islam yang benar maka masyarakat akan menjadi hamba yang dibangun di atas asas, kaidah dan landasan yang lurus. Dan tiang keluarga adalah isteri yang shalihah dan ibu yang pandai mendidik dan bila seorang isteri baik maka baiklah keluarga dan anak-anak. Bahkan ibu adalah universitas yang mampu meluluskan anak bangsa yang tangguh, kokoh dan shalih pada setiap zaman dan tempat. Wanita adalah setengah dari bagian masyarakat dan dia melahirkan separuh dari generasi manusia serta dialah pondasi tegaknya keluarga. Sementara keluarga adalah asas masyarakat, bila anda ingin memiliki masyarakat yang baik dan tangguh maka hendaklah anda membenahi rumah tangga.
Namun sebelum berfikir kearah itu anda harus memilih isteri yang shlihah untuk menjadi pendamping dan pendidik bagi anak-anak anda serta pemegang amanah bagi rumahmu, karena rumah tangga yang islami menjadi bibit terbentuknya masyarakat yang Islami dan sekaligus berfungsi sebagai benteng aqidah yang kokoh maka hendaklah seorang muslim membangun benteng yang kokoh lebih dahulu karena itu lebih utama harus diperhatikan. Oleh sebab itu seorang ibu memiliki peran yang sangat menentukan dan pengaruh yang sangat penting bagi proses pendidikan dalam rumah tangga disamping peran bapak. Tidak cukup hanya mengandalkan bapak dalam memelihara dan mengamankan benteng tersebut namun masing-masing memiliki peran sementara wanita membimbing dan mengasuh anak-anak yang berperan sebagai generasi dan asset umat di masa yang akan datang.
Bagi orang yang ingin membentuk rumah tangga yang islami dan anak-anak yang shalih harus memilih seorang calon isteri yang shalih dan baik karena dia pondasi yang sangat menentukan keberhasilan pendidikan yang benar. Dengan demikian anda telah menyiapkan dasar-dasar pendidikan yang benar bagi anak-anak anda sebelum lahir.
Adapun prinsip mendidik anak sebelum lahir dalam Islam adalah sebagai berikut:
1.     Prinsip Cinta, Kasih, Sayang, dan Kerja Sama
Salah satu di antara kebutuhan esensial manusia, secara psikis adalah cinta, kasih, dan sayang[4]. Demikianlah yang sama menjadi unsur perekat dalam mengikat hubungan yang harmonis antara seorang istri dan suami. Adanya rasa saling kasih, cinta, dan sayang akan dapat memberikan dampak positif bagi keduanya, terutama bagi istri yang sedang mengandung, kebutuhan tersebut sangat dominan. Dalam melaksanakan pendidikan anak dalam kandungan (pralahir) suami harus mengasihi dan menyayangi istrinya yang sedang mengandung itu. Karena, hal tersebut akan membuat istrinya merasa senang, tenteram, aman, tenang, dan bahagia. Selain itu, kondisi tersebut menciptakan kedamaian dan kerukunan dalam rumah tangga, serta hubungan antara keduanya (suami-istri) menjadi seimbang.
Keadaan ini dengan sendirinya akan menghasilkan kerja sama yang baik, menjadi sarana mudahnya melakukan aplikasi program pendidikan pralahir yang lebih efektif dan efisien. Program pendidikan pralahir, baik melalui stimulasi edukatif atau melalui latihan-latihan pendidikan yang dimuati nilai-nilai rasa cinta, kasih dan sayang, serta kerja sama yang harmonis antara keduanya akan sangat membantu bagi anak pralahir untuk belajar memberikan dan menerima kasih sayang dan kerja sama (interaktif) di antara mereka.
2.     Prinsip Tauhidiyah
Setiap manusia memiliki keyakinan adanya Zat Yang Maha absolut, Mutlak, Maha agung, Maha besar[5]. Keyakinan ini merupakan potensi asli dan mendasar manusia mulai sejak ia melakukan baiat dengan Tuhannya, Allah swt., pada zaman azali, alam arwah, seperti yang termuat dalam firman Allah swt. dalam Al-Qur’an surah al-A’raaf ayat 172.
وَإِذْ أَخَذَ رَبُّكَ مِن بَنِي آدَمَ مِن ظُهُورِهِمْ ذُرِّيَّتَهُمْ وَأَشْهَدَهُمْ عَلَى أَنفُسِهِمْ أَلَسْتَ بِرَبِّكُمْ قَالُواْ بَلَى شَهِدْنَا أَن تَقُولُواْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ إِنَّا كُنَّا عَنْ هَذَا غَافِلِينَ) الأعراف: ١٧٢(
Artinya: Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman): "Bukankah Aku ini Tuhanmu?" Mereka menjawab: "Betul (Engkau Tuhan kami), kami menjadi saksi". (Kami lakukan yang demikian itu) agar di hari kiamat kamu tidak mengata-kan: "Sesungguhnya kami (bani Adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap ini (keesaan Tuhan).(Qs.; Al-“araf:172)
Pernyataan ini harus terus melekat dalam cita-cita hidup dan kehidupan setiap manusia, mulai sejak alam rahim (alam kandungan ibu), di dalam alam dunia, dan sampai alam akhirat. Dalam melakukan stimulasi edukatif atau latihan-latihan pendidikannya, orang tua harus memberikan nuansa (orientasi) tauhidiyah, yaitu latihan-latihan edukasi yang berpangkal dari prinsip-prinsip tauhidullah atau prinsip-prinsip keesaan Allah sebagaimana yang termuat dalam kitab Al-Qur’an al Karim dan As-Sunnah Nabawiyyah. Dengan prinsip ini, si anak dalam kandungan nantinya akan tetap menjadi manusia yang beriman, beragama dan bertakwa kepada Allah swt.
3.     Prinsip Ibadah
Ibadah merupakan salah satu tugas kekhalifahan manusia di bumi ini. Tugas ini merupakan tugas inti dari semua tugas yang diwajibkan Allah kepada manusia[6]. Ada dua kelompok jenis makhluk yang tendensi seruannya lebih kuat untuk melakukan ibadah-ibadah ini, yaitu selain manusia adalah bangsa jin. Sebagaimana finnan Allah berikut ini.
وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ) الذاريات: ٥٦(
Artinya:   Tidak Aku ciptakan jin dan manusia kecuali untuk beribadah kepadaku.” (Qs. adz-Dzaariyaat: 56)
Namun, bangsa manusia lebih kuat lagi penekanannya, karena ia diberi alat-alat indrawi yang cukup lengkap dan maksimal, yaitu berupa wujud yang indah, alat-alat indra yang lengkap baik jasmaniah maupun rohaniah. Dengan merealisasikan ibadah-ibadah kepada Allah SWT., berarti eksistensi kemanusiaannya akan terlihat dan dapat diperhitungkan keberadaannya baik di dunia maupun di akhirat. Sebagai orang tua yang memegang prinsip ajaran Islam, sebaiknya ia dapat memformulasikan keyakinannya itu dalam kehidupan anak-anaknya kelak. Hal mendasar yang dapat dilakukan adalah dengan memberikan contoh kebiasaan-kebiasaan beribadah bagi anaknya yang sedang tumbuh dan berkembang dalam kandungannya. Dengan pola yang dilakukan sejak dini dalam rangka membentuk kebiasaan aktif beribadah secara kontinu, maka akan lahirlah anak yang tumbuh dan berkembang dalam suasana keaktifan serta sensitif terhadap pelaksanaan menjalankan perintah-perintah Allah azza wa jalla.
4.     Prinsip Akhlak dan Kebiasaan Baik
Tema sentral yang menjadi pokok ajaran perjuangan dan dakwah Nabi Muhammad saw. selama dua periode (Mekah dan Madinah) adalah penyempumaan akhlak manusia seluruh alam, baik yang bertalian dengan akidah, syariah, muamalah, jinayah, munakahah, waratsah, dan lainnya[7].  Kesempurnaan akhlak bagi sifat manusia menjadi syarat utama untuk menjadi pengemban yang baik terhadap amanat pengelolaan dan kepengurusan (khalifah) di bumi ini. Dan, anak dalam kandungan merupakan salah satu bagian calon penghuni bumi yang akan menerima tugas dan amanat yang telah dibebankan kepada Rasulullah SAW. dan umatnya.
Untuk mencapai sifat-sifat kesempurnaan akhlak ini hendaklah orang tuanya memberikan contoh-contoh positif bagi anak-anaknya, termasuk anak yang masih dalam kandungannya. Contoh keteladanan orang tua pada anak yang masih dalam kandungan tentu sangat berbeda dengan anak-anak yang sudah terlahir ke bumi atau dewasa. Contoh keteladanan orang tua kepada anak dalam kandungan hanya memberikan sensasi-sensasi positif, dengan lembut penuh kasih sayang yang berorientasi kepada makarimal akhlak, seperti berbicara lugas/jelas, sopan, penuh rasa hormat, dan kasih sayang, mengharapkan anak dalam kandungan responsif dan mengulang-ulang latihan/sensasi tersebut, dengan rasa tenang dan senang. Kebiasaan-kebiasaan ini pada saat ini (masa dalam kandungan) belum tampak nyata, akan tetapi setelah ia lahir, tumbuh dan berkembang dewasa, si anak akan lebih mudah melakukan, mengaplikasi kebiasaan-kebiasaan perbuatan baik tersebut.
5.     Prinsip Kecerdasan dan Ilmiah
Latihan-latihan pendidikan anak pralahir merupakan sensasi dan stimulasi untuk menarik minat anak dalam kandungan[8]. Wujud sederhana dari keberhasilan pendidikan ini adalah adanya kamampuan untuk merespons sesuatu yang dipahaminya sebelum kelahirannya. Dengan membiasakan langkah-langkah sederhana dalam berbagai materi yang dapat memberikan sensasi atau stimulasi di mana si bayi dalam kandungan dapat menjawab atau meresponsnya, diharapkan kelak si anak dapat lebih banyak menerima dan meningkatkan minat dan ketrampilan pada hal-hal yang baru. Keadaan tersebut dengan sendirinya akan meningkatkan daya kecerdasan otak dan sensitif terhadap suasana ilmiah si anak pralahir.
6.     Prinsip Stimulasi Pralahir
Ketika umur kandungan atau kehamilan telah mencapai lima bulan atau dua puluh minggu, maka instrumen indra anak dalam kandungan sudah potensial menerima stimulasi dan sensasi dari luar rahim, seperti indra peraba bayi sudah merasakan sentuhan dan rabaan orang tuanya, indra pendengar bayi sudah mampu mendengar, misalnya suara khas ibunya, dan indra penglihatan bayi sudah mampu melihat sinar terang dan gelap di luar rahim[9]. Dengan latihan pendidikan pralahir, berarti memberikan stimulasi sistematis bagi otak dan perkembangan saraf bayi sebelum dilahirkan. Selain itu, latihan-latihan edukatif pralahir membantu bayi lebih efektif dan efisien dan menambah kapasitas belajar setelah ia dilahirkan.


[1] Al-Maghribi Bin as-Said al-Maghribi, Begini Seharusnya Mendidik Anak, (Jakarta: Darul Haq, 2005), hal. 9.

[2]Ibid., hal. 11.

[3] Ibid., hal. 10.
[4] Aziz Mushoffa, Mendidik Buah Hati dengan Cinta, (Surabaya:  Pustaka Eureka, 2004), hal. 12.

[5] Ibid., hal. 12.
[6] Ibid., hal. 13.
[7] Ibid., hal. 13.
[8] Ibid., hal. 13.
[9] Ibid., hal. 14.


Post a Comment for "Prinsip Mendidik Anak Sebelum Lahir"