Teori Belajar Matematika
1.6.3 Teori Belajar
Matematika
Menurut Brunner seperti yang dikutip Hudoyo dalam Aisyah
dkk (2007: 1.5), belajar matematika adalah belajar tentang konsep-konsep dan
struktur-struktur matematika yang terdapat di dalam materi yang dipelajari
serta mencari hubunganhubungan antara konsep-konsep dan struktur matematika. Siswa harus dapat menemukan keteraturan dengan cara mengotak-atik
atau memanipulasi bahan-bahan yang berhubungan dengan keteraturan intuitif yang
sudah dimikili siswa. Dengan demikian, siswa dalam belajar haruslah terlibat
aktif mentalnya agar dapat mengenal konsep dan struktur yang tercakup dalam
bahan yang sedang dibicarakan, sehingga anak dapat memahami materi yang harus
dikuasainya. Ini menunjukkan bahwa materi yang mempunyai pola atau struktur
tertentu akan lebih mudah dipahami dan diingat siswa. Dalam setiap kesempatan,
hendaknya dimulai dengan pengenalan masalah yang sesuai dengan situasi.
Selanjutnya Brunner seperti ysng dikutip Hudoyo dalam Aisyah dkk (2007: 1.6)
menyatakan bahwa anak berkembang melalui tiga tahap perkembangan mental, yaitu:
(1)
Tahap enaktif; pada tahap ini, dalam belajar, anak-anak
menggunakan atau memanipulasi objek-objek konkret secara langsung,
(2)
Tahap ikonik; pada tahap ini kegiatan anak mulai
menyangkut mental yang merupakan gambaran dari objek-objek konkret. Dalam hal
ini, anak-anak tidak memanipulasi langsung objek-objek konkret seperti pada
tahap enaktif, melainkan sudah dapat memanipulasi dengan memakai gambaran dari
objekobjek yang dimaksud,
(3)
Tahap simbolik; tahap ini merupakan tahap memanipulasi simbol-simbol
secara langsung dan tidak ada lagi kaitannya dengan objek-objek.
Berdasarkan tahapan yang disebutkan oleh Brunner, usia anak kelas VI
masih dalam tahap ikonik. Tahap ini menjelaskan bahwa kemampuan anak akan
tercapai dengan maksimal jika anak akan mempelajari mata pelajaran harus
dikaitkan dengan objek yang bersifat nyata meskipun tidak secara langsung tapi
siswa diberikan gambaran tentang objek yang mudah ditemui dalam keseharian. Hal
ini akan berakibat positif dalam ranngka membelajarkan matematika secara
efektif.
Untuk mendukung usaha pembelajaran yang mampu menumbuhkan kekuatan
matematika, diperlukan guru yang profesional dan kompeten. Guru yang
profesional dan kompeten adalah guru yang menguasai materi pembelajaran
matematika, memahami bagaimana siswa belajar, menguasai pembelajaran yang mampu
mencerdaskan siswa, dan mempunyai kepribadian yang dinamis dalam membuat
keputusan perencanaan dan pelaksanaan pembelajaran.
Dukungan dan bimbingan untuk mengembangkan profesionalisme guru
dalam mengajar matematika dapat berupa pengembangan dan penetapan ukuran-ukuran
baku (standar) yang perlu dikuasai setiap guru yang professional. Beberapa
komponen dalam standar guru matematika yang professional (Muhsetyo, 2008: 1.8),
yaitu:
(1) Penguasaan
dalam pembelajaran matematika,
(2) Penguasaan
dalam pelaksanaan evaluasi pembelajaran matematika,
(3) Penguasaan
dalam pengembangan professional guru matematika,
(4) Penguasaan
tentang posisi penopang dan pengembang guru matematika dan pembelajaran matematika.
Guru yang professional dan kompeten harus mempunyai wawasan
landasan yang dapat dipakai dalam perencanaan dan pelaksanaan pembelajaran
matematika. Wawasan itu berupa dasar-dasar teori belajar yang dapat diterapkan
untuk mengembangkan dan atau perbaikan pembelajaran matematika.
Teori perkembangan intelektual dari Jean Piaget dalam Muhsetyo
(2008: 1.9) menyatakan bahwa kemampuan intelektual anak berkembang secara
bertingkat atau bertahap yaitu sensorimotor, pra-operasional, operasional
konkret, dan operasional atau operasi formal:
(1) Tahap sensorimotor (0-2 tahun); pada tahap ini
anak mengembangkan konsep pada dasarnya melalui interaksi dengan dunia fisik,
(2) Tahap pra-operasional (2-7 tahun); pada tahap
ini anak sudah mulai menggunakan bahasa untuk menyatakan suatu ide, tetapi ide
tersebut masih tergantung pada persepsi. Pada tahap ini anak sudah mulai menggunakan simbol, dia belajar
untuk membedakan antara kata atau istilah dengan menggunakan objek yang
diwakili oleh kata atau istilah tersebut,
(3) Tahap
operasional konkret (7-11 tahun); selama tahap ini anak mengembangkan konsep
dengan menggunakan benda-benda konkret untuk menyelidiki hubungan dan
model-model ide abstrak. Bahasa merupakan alat yang sangat penting untuk
menyatakan dan mengingat konsep-konsep. Pada tahap ini anak sudah mulai
berpikir logis. Berpikir logis ini terjadi sebagai akibat adanya kegiatan anak
memanipulasi benda-benda konkret,
(4) Tahap operasi
formal (11-15 tahun); pada tahap ini anak sudah mulai berpikir secara abstrak,
dia data menyusun hipotesis dari hal-hal yang abstrak menjadi dunia real dan
tidak tergantung pada benda-benda konkret.
Menurut tahapan usia anak berdasarkan piaget, usia anak kelas VI ada
pada tahap operasional konkret. Dalam tahap ini anak dalam rangka mempelajari
mata pelajaran khususnya matematika, anak harus dikaitkan dengan media yang
masih konkret atau nyata sehingga akan tercapai pembelajaran sesuai tahapan
usia anak yang maksimal.
Dari beberapa pendapat teori pembelajaran
diatas dapat disimpulkan bahwa proses pembelajaran matematika akan berhasil dan
lebih bermakna jika proses pengajaran diarahkan pada konsep-konsep dari
struktur-sruktur yang termuat dalam pokok bahasan dengan cara melibatkan siswa
secara langsung menggunakan media pembelajaran yang relevan seperti gambar,
lambang atau simbol dan benda-benda konkret lainnya. Dengan demikian pemahaman terhadap konsep matematika akan lebih
mudah dipahami oleh siswa.

Post a Comment for " Teori Belajar Matematika"