Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Ijma’ Sebagai Sumber Hukum Islam


BAB I
P E N D A H U L U A N


A.    Latar Belakang Masalah
Islam sangat membenci perpecahan dan perselisihan sampai Rasulullah Saw memerintahkan kepada orang yang sedang membaca Al Qur’an agar menghentikan bacaanya jika bacaannya itu akan mengakibatkan perpecahan. “Bacalah Al Qur’an selama bacaan itu dapat menyatukan hati kalian, tetapi jika kalian berselisih maka hentikanlah bacaan itu.“ (HR Bukhari & Muslim). Kendati keutamaan membaca Al Qur’an sangat besar, namun Nabi Saw tidak mengizinkan membacanya jika bacaan itu membawa kepada perselisihan dan pertentangan. Jika perselisihan menyangkut pemahaman makna, maka harus dibaca dengan berpegang teguh kepada pemahaman dan pengertian yang akan menumbuhkan kesatuan. Jika terjadi perselisihan atau timbul suatu keraguaan, maka hendaklah bacaan itu ditinggalkan dan berpegang teguh pada yang Muhkam yang akan membawa persatuan.
Dalam menentukan atau menetapkan hukum-hukum ajaran Islam para mujtahid telah berpegang teguh kepada sumber-sumber ajaran Islam. Sumber pokok ajaran Islam adalah Al-Qur’an yang memberi sinar pembentukan hukum Islam sampai akhir zaman. Disamping itu terdapat as-Sunnah sebagai penjelas Al-Qur’an terhadap hal-hal yang masih bersifat umum. Selain itu para mujtahidpun menggunakan Ijma’, Qiyas. Sebagai salah satu acuan dalam menentukan atau menetapkan suatu hukum.
Untuk itu, perlu adanya penjabaran tentang sumber-sumber ajaran Islam tersebut seperti Al-Qur’an, Hadist, Ijma’, Qiyas, dan Ijtihad. Agar mengerti serta memahami pengertian serta kedudukannya dalam menentukan suatu hukum ajaran Islam.






















BAB II
P E M B A HASAN
A.    Pengertian Ijma’
Ijma' (الِإجْمَاعُ) adalah mashdar (bentuk) dari ajma'a (أَجْمَعَ) yang memiliki dua makna:
1)     Tekad yang kuat (العَزْمُ المُؤَكَّدُ) seperti: أَجَمَعَ فُلَانٌ عَلَى سَفَرٍ  (sifulan bertekad kuat untuk melakukan perjalanan).
2)     Kesepakatan (الاتِّفَاقُ) seperti: (أَجْمَعَ المُسْلِمُوْنَ عَلَى كَذَا) kaum muslimin bersepakat tentang sesuatu.
Sedangkan makna Ijma' menurut istilah adalah:
اتِّفَاقُ مُجْتَهِدِيْ أُمَّةِ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بَعْدَ وَفَاتِهِ فِيْ عَصْرِ مِنَ العُصُوْرِ عَلَى أَمْرٍ مِنَ الأُمُوْرِ
Artinya: "kesepakatan para mujtahid ummat Muhammad saw setelah beliau wafat dalam masa-masa tertentu dan terhadap perkara-perkara tertentu pula"[1].
Menurut definisi diatas, kandungan dasar pokok Ijma' antara lain:
1)     Kesepakatan (الاتِّفَاقُ) artinya kesatuan pendapat, baik ditujukan oleh perkataan atau dengan sikap.
2)     Para Mujtahid (المُجْتَهِدُوْنَ). Ijtihad adalah kemampuan yang dimiliki oleh orang yang alim (berilmu) untuk mngistinbatkan (menetapkan) hukum-hukum syar'i dari dalil-dalilnya. Sehingga yang dituntut dari seorang mujtahid adalah pengarahan kemampuan secara maksimal dalam menetapkan ketentuan hukum.
3)     Ummat Muhammad yang dimaksud adalah ummat ijabah (ummat yang menerima seruan dakwah Nabi saw).
4)     Setelah wafatnya Nabi saw, sehingga kesepakatan kaum muslimin ketika beliau hidup tidak disebut ijma'.
5)     Didalam satu masa tertentu artinya kesepakatan yang terjadi pada masa kapan saja.
6)     Pada perkara-perkara tertentu yaitu perkara-perkara syar'i atau perkara-perkara yang bukan syar'i tetapi memiliki hubungan dengan syari'at[2].
B.    Ruang Lingkup Ijma’
Ijma’ memiliki beberapa tingkatan yaitu sebagai berikut :[3]
1.     Ijma’ sharih
Dimana setiap mujtahid menyatakan bahwa mereka menerima pendapat yang disepakati tersebut.
2.     Ijma’ Sukuti
Dimana suatu pendapat yang dikemukakan oleh seorang mujtahid, kemudian pendapat itu diketahui oleh mujtahid yang hidup semasa dengan mujtahid atas, tidak ada seorangpun mengingkarinya dan/mengiyakannya. Dalam hal ini Imam Syafi’i tidak memasukkan Ijma’ Sukutidalam kategori Ijma’ yang dapat dijadikan hujjah.
Ulama-ulama yang berpendapat tentang ijma’ sukuti :
a.      Tidak memasukkan ijma’ sukuti ini dalam kategori ijma’ (oleh imam Syafi’i)
b.     Memasukan ijma’ sukuti dalam kategori ijma’, hanyasaja tingkat kekuatanya di bawah ijma’ sharih. (oleh fuqoha selain Syafi’i dan Hanafi)
c.      Ijma’ sukuti dapat dijadikan argumentasi (hujjah) tapi bukan termasuk kategori ijma’. (Madzhab Hanafi)
Dari 3 golongan tersebut masing-masing memiliki alasan masing-masing. Adapun organisasi ulama yang menganggap bahwa ijma’ sukuti tidak dapat dijadikan hujjah sariyyah adalah sebagai berikut:[4]
a.      Orang diam tidakdapat dipandang sebagai orang berpendapat. Karena apa? Jika dianggap sebagai ijma’ ini diam dapat dianggap sebagai pembicaraan yang dinisbatkan pada seorang mujtahid.
b.     Diam tidakdapat di pandang sebagai setuju. Karena diamnya seorang mujtahid mungkin setuju/tidak, mungkin berijtihad dengan masalah tersebut/mungkin sudah tetapi belum memperoleh hasil yang mantap dan masih banyak kemungkinan-kemungkinan yang lain. Segala kemungkinan tersebut di atas, maka diam tidak dapat dijadikan sebagai hujjah untuk menerima pendapat seorang mujtahid.
Sedang yang ke 2 memiliki alasan sebagai sebagai berikut :
a.      Pada dasarnya diam tidak bisa dikategorikan hujjah kecuali sesudah merenung dan berfikir.
b.     Pada umumnya tidak semua pemberi fatwa memberikan keterangan pada suatu masalah.
c.      Diamnya seorang mujtahid setelah merenung dan berfikir terhadap hasil ijtihad orang lain yang bertentangan dengan hukum yang benar menurut ijtihadnya adalah haram.
لا تجمع امتى على الضلالة
Artinya: Umatku tidak akan bersepakat atas perbuatan sesat.
C.    Sebab-Sebab Terjadinya Ijma’
Para ulama berbeda pendapat tentang kemungkinan terjadinya ijma’ dan nilai argumentasinya. Mengapa? Karena terjadinya perbedan pendapat dalam mengartikan ijma’. Diantaranya berpendapat bahwa : Ijma’ adalah kesepakatan para Mujtahid pada setiap masa terhadap hukum syara’ jika demikian maka ijma’ tersebut tidak mungkin terjadi. Tetapi jika yang dimaksud ijma’ adalah kesepakatan para mujtahid terhadap hukum-hukum syara tetap ditetapkan berdasarkan dalil nash yang qoth’i.
Seperti: Kesepakatan mereka tentang wajibnya mereka shalat menghadapi qiblat, kewajiban puasa, zakat, ibadah haji dan lain-lain. Maka hal tersebut mungkin terjadi. Dalam hal ini yang menjadi argumentasi (hujjah) bukan ijma’, melainkan dalil-dalil nash qath’i. Dengan demikian ijma’ tidak memiliki peran apa-apa karena ijma’ bisa di katakan berfungsi jika ia mampu meningkatkan hukum yang bersifat dhanny menuju Qath’i. Hukum-hukum seperti disebutkan di atas seperti wajibnya shalat, puasa dan sebagainya pada dasarnya sudah bersifatqoth’i. Kemudian siapakah orang-orang yang ijma’nya bisa diterima? Dan bagaimana kriteria mujtahid yang ijma’nya dapat diterima? Untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan ini beliau imam Syafi’i membuka dialog dalam kitab Jima’ul Ilmu : “Siapakah diantara ulama ijma’nya dapat dijadikan hujjah ialah orang-orang yang diakui (diangkat) oleh penduduk suatu Negara sebgai ahli fiqih yang fatwa-fatwanya dapat diterima oleh penduduk tersebut dengan senang hati. Akan tetapi jawaban tersebut diangkat oleh imam Syafi’i, karena tidak ada ulama’ yang memiliki sifat-sifat diatas walaupun ada ahli fiqh yang diakui sebagian penduduk dalam suatu negara namun dianggap orang bodoh yang tidak berhak memberikan fatwa oleh sebagian penduduk lain. Apalagi ulama’ yang fatwanya diterima secara bulat oleh seluruh penduduk antar Negara.[5]
Dengan adanya pernyataan-pernyataan diatas beliau Imam Syafi’i cenderung menolak ijma’ dengan alasan-alasan sebagai berikut:[6]
1.     Para Fuqoha berdomisili di berbagai tempat yang saling berjauhan, sehingga mereka tidak mungkin dapat bertemu.
2.     Terjadinya perbedaan pendapat diantara para fuqoha yang tersebar diberbagai daerah diseluruh Negara-negara Islam.
Tidak ada kesepakatan ulama’ tentang orang-orang yang diterima ijma’nya. Dengan demikian ijma’ yang dapat dijadikan argumentasi (Hujjah) hanyalah ijma’ para sahabat. Karena pada masa itu mereka masih berdomisili dalam suatu jazirah dan belum berpencar di berbagai negara sehingga memungkinkan terjadinya ijma’. Akan tetapi pada masa tabi’in berhubung sudah berpencar di berbagai negara hingga sulit mengadakan pertemuan diantara mereka. Maka benarlah sesungguhnya jika ulama mengatakan bahwa tidak ada ijma’ yang dispakati dan diterima oleh semua ulama, kecuali ijma’nya para sahabat. Dan dapat disimpulkan bahwa masa sekarang ini tidak mungkin terjadinya ijma’.
D.    Pendapat Para Ulama
Para ulama ushul fiqih mendasarkan kesimpulan mereka bahwa ijma’ adalah sah dijadikan sebagai landasan hukum kepada berbagai argumentasi antara lain:
1.     Firman Allah dalam surat Annisa ayat 115 sebagai berikut:
وَمَن يُشَاقِقِ الرَّسُولَ مِن بَعْدِ مَا تَبَيَّنَ لَهُ الْهُدَى وَيَتَّبِعْ غَيْرَ سَبِيلِ الْمُؤْمِنِينَ نُوَلِّهِ مَا تَوَلَّى وَنُصْلِهِ جَهَنَّمَ وَسَاءتْ مَصِيراً) النساء: ١١٥(
Artinya: Dan barangsiapa yang menentang Rasul sesudah jelas kebenaran baginya, dan mengikuti jalan yang bukan jalan orang-orang mu'min, Kami biarkan ia leluasa terhadap kesesatan yang telah dikuasainya itu dan Kami masukkan ia ke dalam Jahannam, dan Jahannam itu seburuk-buruk tempat kembali.(Qs. An-Nisa:115).

Ayat tersebut mengancam golongan yang menentang Rasulullah dan mengikuti jalan orang-orang yang bukan mukmin. Dari ayat tersebut dipahami, kata muhammad abu zahrah, bahwa wajib hukumnya mengikuti jalan orang-orang yang mukmin yaitu mengikuti kesepakatan mereka.
2.     Firman Allah dalam surat Albaqarah ayat 143 sebagai beriku:
وَكَذَلِكَ جَعَلْنَاكُمْ أُمَّةً وَسَطاً لِّتَكُونُواْ شُهَدَاء عَلَى النَّاسِ وَيَكُونَ الرَّسُولُ عَلَيْكُمْ شَهِيداً وَمَا جَعَلْنَا الْقِبْلَةَ الَّتِي كُنتَ عَلَيْهَا إِلاَّ لِنَعْلَمَ مَن يَتَّبِعُ الرَّسُولَ مِمَّن يَنقَلِبُ عَلَى عَقِبَيْهِ وَإِن كَانَتْ لَكَبِيرَةً إِلاَّ عَلَى الَّذِينَ هَدَى اللّهُ وَمَا كَانَ اللّهُ لِيُضِيعَ إِيمَانَكُمْ إِنَّ اللّهَ بِالنَّاسِ لَرَؤُوفٌ رَّحِيمٌ) البقرة: ١٤٣(
Artinya:  Dan demikian (pula) Kami telah menjadikan kamu (umat Islam), umat yang adil dan pilihan agar kamu menjadi saksi atas (perbuatan) manusia dan agar Rasul (Muhammad) menjadi saksi atas (perbuatan) kamu. Dan Kami tidak menetapkan kiblat yang menjadi kiblatmu (sekarang) melainkan agar Kami mengetahui (supaya nyata) siapa yang mengikuti Rasul dan siapa yang membelot. Dan sungguh (pemindahan kiblat) itu terasa amat berat, kecuali bagi orang-orang yang telah diberi petunjuk oleh Allah; dan Allah tidak akan menyia-nyiakan imanmu. Sesungguhnya Allah Maha Pengasih lagi Maha Penyayang kepada manusia.(Qs. Al-Baqarah:143).

Maka firmanNya : "Saksi atas manusia", mencakup persaksian terhadap perbuatan-perbuatan mereka dan hukum-hukum dari perbuatan mereka, dan seorang saksi perkataannya diterima.
3.     Firman Allah dalam surat Annisa ayat 59 sebagai berikut:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ أَطِيعُواْ اللّهَ وَأَطِيعُواْ الرَّسُولَ وَأُوْلِي الأَمْرِ مِنكُمْ فَإِن تَنَازَعْتُمْ فِي شَيْءٍ فَرُدُّوهُ إِلَى اللّهِ وَالرَّسُولِ إِن كُنتُمْ تُؤْمِنُونَ بِاللّهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ ذَلِكَ خَيْرٌ وَأَحْسَنُ تَأْوِيلاً) النساء: ٥٩(
Artinya:  Hai orang-orang yang beriman, ta'atilah Allah dan ta'atilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Qur'an) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya.(Qs. An-Nisa:59).

Ini Menunjukkan bahwasanya apa-apa yang telah mereka sepakati adalah benar.
4.     Hadits
Bila para mujtahid telah melakukan ijma' tentang hukum syara' dari suatu peristiwa atau kejadian, maka ijma' itu hendaklah diikuti, karena mereka tidak mungkin melakukan kesepakatan untuk melakukan kesalahan apalagi kemaksiatan dan dusta
5.     Akal pikiran
Setiap ijma' yang dilakukan atas hukum syara', hendaklah dilakukan dan dibina atas asas-asas pokok ajaran Islam. Karena itu setiap mujtahid dalam berijtihad hendaklah mengetahui dasar-dasar pokok ajaran Islam, batas-batas yang telah ditetapkan dalam berijtihad serta hukum-hukum yang telah ditetapkan. Bila ia berijtihad dan dalam berijtihad itu ia menggunakan nash, maka ijtihadnya tidak boleh melampaui batas maksimum dari yang mungkin dipahami dari nash itu.
Sebaliknya jika dalam berijtihad, ia tidak menemukan satu nashpun yang dapat dijadikan dasar ijtihadnya, maka dalam berijtihad ia tidak boleh melampaui kaidah-kaidah umum agama Islam, karena itu ia boleh menggunakan dalil-dalil yang bukan nash, seperti qiyas, istihsan dan sebagainya. Jika semua mujtahid telah melakukan seperti yang demikian itu, maka hasil ijtihad yang telah dilakukannya tidak akan jauh menyimpang atau menyalahi al-Qur'an dan al-Hadits, karena semuanya dilakukan berdasar petunjuk kedua dalil ltu. Jika seorang mujtahid boleh melakukan seperti ketentuan di atas, kemudian pendapatnya boleh diamalkan, tentulah hasil pendapat mujtahid yang banyak yang sama tentang hukum suatu peristiwa lebih utama diamalkan.
E.    Contoh Ijma’ Masa Sekarang
Berikut merupakan beberapa contoh hukum yang ditetapkan ijma’.
1.     Berkenaan pewarisan datuk jika bersama anak yang menjelaskan apabila seorang meninggal dunia dan ahli warisnya adalah terdiri dari datuk dan anak, maka datuk sebagaimana bapa mendapat 1/6 harta warisan apabila adanya anak.
2.     Mustafa Ahmad pula menjelaskan iaitu ijma’ menganggap sah transaksi istishna’ (pesanan). Jumhur fuqaha menetapkan dan memegang pendapat tersebut. Begitu juga ijma amali (kebiasaan) telah menjalankan transaksi istishna’.
3.     Ijma’ sahabat tentang pemerintahan. Wajib hukumnya mengangkat seorang imam atau khalifah untuk menggantikan Rasulullah dalam mengurusi urusan Daulah Islamiah yang menyangkut urusan agama dan dunia yang disepakati oleh para Sahabat di Saqifah Bani Sai’idah.
4.     Dalam menerangkan ijma’ mengenai kesahihan nikah yang dilakukan untuk memenuhi keperluan biologi seorang lelaki seperti mendapat keturunan, membina sebuah keluarga, berbaur menjadi sebahagian dari sebuah masyarakat adalah dengan mengatakan bahawa pernikahan yang disyariatkan sejak masa Nabi Adam a.s hingga berlangsung ke seluruh masa kenabian. Bahkan kaum muslimin telah sepakat akan keberlangsungan pernikahan hingga sampai ke syurga kelak. Selain itu, seluruh para ulama dari masa ke semasa telah bersepakat ke atas kesahihan pernikahan di dalam agama Islam.
5.     Ijma’ berkenaan kesahihan khuluk merupakan perbuatan yang disyariatkan oleh Islam dan boleh untuk dilakukan berdasarkan kesepakatan seluruh sahabat Rasulullah s.a.w ke atas bolehnya hukum melakukan khuluk dan tidak ada salah satu dari mereka yang menentangnya. Muhammad  menyatakan lagi bahawa dengan demikian kesepakatan tersebut menjadi ijma’ mereka atas hukum khuluk yang dibolehkan. Alasannya adalah kerana khuluk adalah perbuatan yang mencabut pernikahan dengan saling rela di antara kedua pasangan suami isteri. khuluk disyariatkan bertujuan untuk menghindari sejumlah masalah dan bahaya di antara kedua pasangan suami isteri dan diberlakukan tanpa menimbulkan masalah dan bahaya bagi mereka berdua. Kerana kewujudan khuluk tersebut dapat menghilangkan bahaya dari diri si wanita secara umum.
Abd Latif  menyatakan di dalam buku Pengantar usul fiqh, setelah dibuat penelitian dan kajian, dapat dibuat rumusan di sini bahawa ijma’ pada masa kini tidak mungkin berlaku. Sebab dan alasannya seperti berikut:[7]
a.      Para ulama mujtahid tidak berada pada suatu tempat, malahan mereka tinggal berselerak dan berada di seluruh pelusuk dunia. Lantaran itu, sukar untuk memastikan dan untuk mendapatkan pendapat setiap daripada mereka terhadap sesuatu masalah. Selain itu, tidak mungkin ulama sepakat dalam mengeluarkan hukum sesuatu masalah.
b.     Adalah menjadi kesukaran untuk mengenal pasti mujtahid dan yang bergelar mujtahid itu kerana setengah orang mengaku ia sebagai mujtahid, sedangkan sebenarnya ia belum mencapai tahap tersebut. Hal tersebut kerana ijmak itu ialah persepakatan para ulama mujtahid.


BAB III
P E N U T U P
Berdasarkan pembahasan diatas, maka penulis dapat mengambil kesimpulan dan saran-saran sebagai berikut:
A.    Kesimpulan
1.     Ijma’ adalah kesepakatan para mujtahid ummat Muhammad saw setelah beliau wafat dalam masa-masa tertentu dan terhadap perkara-perkara tertentu pula.
2.     Jumhur ulama berpendapat bahwa Ijma' bersandar pada dalil. Imam al-Amidi meriwayatkan, ulama telah bersepakat dalam hal itu dan tidak perlu dihiraukan pendapat lain yang menyelisihinya.
3.     Ijma’ merupakan sumber perundangan Islam yang telah diakui kebenarannya. Sebagai kesimpulan daripada keseluruhan perbincangan mengenai ijma ini dapatlah kita simpulkan ijma’ itu merupakan kesepakatan sekalian mujtahid setelah kewafatan Rasulullah s.a.w, pada satu masa di atas apa-apa pekerjaan sama ada daripada pekerjaan agama dan pekerjaan dunia atau perkara yang dinisbahkan kepada akal atau lughah.
4.     Ijma’ tidak akan berlaku melainkan setelah adanya kesepakatan ulama yang berijtihad pada sesuatu zaman tanpa dikecualikan seorangpun dari kalangan mereka. Ini bermakna, jika seorang sahaja yang membangkang maka tidaklah dianggap ijma’. Para mujtahidin biasanya berselisih pendapat dalam sesuatu hukum tetapi dalam sesuatu hukum tertentu (yang sedia ada) tidak seorangpun di kalangan mereka berbeza pendapat, maka terjadilah ijma’ dan wajib beramal dengannya apabila ijma’ itu mengikut segala rukun-rukun seperti yang telah ditetapkan.
B.    Saran-saran
1.     Disarankan kepada mahasiswa agar dapat memperdalam pengkajian tentang ushul fiqh.
2.     Disarankan kepada mahasiswa agar dapat meningkatkan membaca dalam kehidupan.
3.     Disarankan kepada para mahasiswa agar dapat mengabdikan ilmunya kepada nasyarakat.














DAFTAR PUSTAKA
Abdul Wahhab Khallaf, Ilmu Ushul Fiqh, Semarang: Dina Utama, 1994.

Muhammad Abu Zahrah, Ushul Fiqh, Jakarta: Pustaka Firdaus, 2007.

Muhammad Abu Zahrah, Ushul Fiqh, Jakarta: Pustaka Firdaus, 2007.

Abd Latif Muda Dan Rosmawati Ali, Penghantar Usul Fiqh, Edisi Pertama, Kuala Lumpur: Ilham Abati Enterprise, 1997.



[1] Abdul Wahhab Khallaf, Ilmu Ushul Fiqh, (Semarang: Dina Utama, 1994), hal. 35.
[2] Khallaf, Ilmu..., hal. 36.

               [3] Muhammad Abu Zahrah, Ushul Fiqh, (Jakarta: Pustaka Firdaus, 2007), hal. 317.
               [4] Ibid., hal. 318.
               [5] Muhammad Abu Zahrah, Ushul Fiqh, (Jakarta: Pustaka Firdaus, 2007), hal. 311.

               [6] Ibid., hal. 311.
               [7] Abd Latif Muda Dan Rosmawati Ali, Penghantar Usul Fiqh, Edisi Pertama, (Kuala Lumpur: Ilham Abati Enterprise, 1997), hal. 93.

Post a Comment for "Ijma’ Sebagai Sumber Hukum Islam"