Kendalah-kendala yang dihadapi oleh Guru dalam Pembinaan Anak Cacat Mental
1. Kendalah-kendala
yang dihadapi oleh Guru dalam Pembinaan Anak Cacat Mental di SLB Juli Keude Dua
Anak cacat mental berat dan sangat berat sepanjang hidupnya akan
slalu tergantung pada pertolongan dan bantuan orang lain. Mereka tidak dapat
memelihara diri sendiri. Pada umumnya mereka tidak dapat membedakan mana yang
berbahaya dan yang tidak berbahaya, tidak mungkin berpartisifasi dengan
lingkungan di sekitarnya, dan jika sedang berbicara maka kat-kata ucapannya
sangat sederhana. Kecerdasan seorang anak cacat mental berat dan sangat berat
hanya dapat berkembang paling tinggi seperti anak normal yang berumur 3 atau 4
tahun.
Menurut pengakuan Ibu Fitriani Kepala SLB Juli Keude Dua
bahwa kendala yang dihadapi oleh Guru dalam
pembinaan anak cacat mental di SLB Juli Keude Dua:
a)
Kendala dari sisi anak, belum semua anak dapat mengikuti
program pendidikan khusus karena berbagai sebab.
b)
Kendala dari sisi tenaga guru, entah karena apa, dari
dahulu hingga sekarang jumlah tenaga guru belum mencukupi.
c)
Masih minimnya publikasi dan sosialisasi, sehingga adakalanya masyarakat kurang
mengetahui keberadaan TKLB, SDLB, SMPLB dan SMALB di daerahnya, serta minimnya
dukungan stikholder yang ada.[1]
Penjelasan diatas, didukung oleh pengakuan yang
disampaikan oleh Ibu Suryani guru SLB Juli Keude Dua menurut beliau kendala
yang dihadapi oleh Guru dalam pembinaan
anak cacat mental di SLB Juli Keude Dua adalah sebagai berikut:
a) Kelainan pada otak, sehingga fungsi berpikirnya
terganggu persepsi bahkan lebih jauh lagi karena gangguan pada system syaraf.
b) sosialisasi. Masalah ini berhubungan dengan
masalah penyesuaian diri dengan lingkungannya.
c) kepribadian. Masalah ini menyangkut
masalah-masalah tingkah laku yang menyimpang, diantaranya berupa mudahnya
frustasi, menarik diri atau merasa terdesak oleh orang lain dsb.
d) Masalah keterampilan dan pekerjaan. Kendatipun
disadari bahwa anak tunadaksa memiliki kemampuan fisik yang terbatas, namun
dilain pihak mereka yang mempunyai kecerdasan yang normal ataupun yang kurang
perlu adanya pembinaan diri sehingga hidupnya tidak sepenuhnya menggantungkan
diri pada orang lain.
e) Masalah latihan gerak. Masalah ini berkaitan
erat dengan kondisi anak tunadaksa yang sebagian besar mengalami gangguan dalam
gerak[2].
Berdasarkan keterangan diatas, maka penulis berkesimpulan
bahwa pada dasarnya semua anak berkebutuhan khusus memiliki karakteristik dan
permasalahan yang realtif sama, yaitu mengalami hambatan perkembangan
intelektualnya, kesulitan dalam sosialisasi, emosinya tidak stabil, dan
hambatan dalam berkomunikasi dengan lingkungannya.

Post a Comment for " Kendalah-kendala yang dihadapi oleh Guru dalam Pembinaan Anak Cacat Mental "