Kontruksi Liberalisme
BAB III
KONSEP LIBERALISME
A.
Kontruksi Liberalisme
Pandangan
kelompok liberal pertama ialah bahwa Islam sedikit, atau tidak, memiliki
ketentuan mengenai lembaga politik dan tidak banyak tuntunan keagamaan yang
diwajibkan pengamalan-pengamalan kepada otoritas politik masa kini atau
unsur-unsur di bawahnya. Kaum liberal pertama ini menyatakan pemisahan antara
agama dan negara.
Jenis liberalisme
Islam kedua membenarkan dibentuknya institusi-institusi liberal (parlemen,
pemilu, dan hak-hak sipil) dan beberapa kebijakan kesejahteraan sosial, bukan
berdasarkan tiadanya undang-undang Islam yang kontradiktif, melainkan
berdasarkan dari sumber-sumber ketentuan Islam yang sangat khusus, yang umumnya
mereka kutip dari sumber-sumber keagamaan dan dari sejarah kekhalifahan awal.[1]
Adanya orientasi
Islam alternatif ini, yakni semacam “liberalisme skripturalis”, yang lebih
berkaitan dengan politik penggalangan dukungan ketimbangan politik praktis,
mendorong sebagian pengamat yang optimis menyimpulkan adanya beberapa
kecenderungan pada kaum modernis dan fundamentalis untuk mempertemukan
idealisme mereka tentang negara Islam dan realita kehidupan hidup Islam.[2]
Doktrin politik
liberal ini berpangkal pada keyakinan bahwa kesepakatan demi kebaikan bersama
bagi kelompok bersejarah manapun bisa dicapai menggunakan wacana rasional.
Doktrin liberal mengasumsikan adanya komunitas politik hetrogen, keanggotaan
yang tidak tetap, dan peduli terhadap penetapan kebaikan bersama bagi bermacam
kelompok yang memiliki kepentingan dan jati diri masing-masing. Penentuan
kebaikan bersama untuk sebuah komunitas yang anggotanya tidak banyak memiliki
perbedaan mendasar adalah persoalan lain. Di samping itu, jika komunitas
politik ini diyakini bersifat lintas sejarah, maka doktrin liberal, akan
menjadi semakin problematis.
[1]Leonard Binder, Islam Liberal;
Kritik Terhadap Ideologi-Ideologi Pembangunan, Terj. Imam Muttaqin,
Yokyakarta: Pustaka Pelajar, 2001, hal. 355

Post a Comment for "Kontruksi Liberalisme"