Metode Tafhim Dalam Konsep Pendidikan Islam
BAB
I
P
E N D A H U L U A N
A.
Latar Belakang Masalah
Pendidikan adalah suatu usaha yang dilakukan oleh
manusia dengan melalui beberapa proses dan tahapan-tahapan tertentu dalam rang
untuk mendewasakan manusia sehingga manusia itu mampu untuk tumbuh dan berkembang
dengan sempurna dalam melaksanakan segala tugas-tugas dan kewajibannya sebagai
khalifah Allah Swt di muka bumi ini.
Dalam pendidikan Islam metode pemahaman adalah suatu
metode yang sangat penting dan tidak dapat dipisahkan dari berbagai macam dan
cabang pendidikan. Hal ini dapat kita lihat sebagaimana Allah Swt telah
mengajarkan langsung Nabi Sulaiman sebagaimana yang terkandung dalam firmanNya:
فَفَهَّمْنَاهَا
سُلَيْمَانَ وَكُلّاً آتَيْنَا حُكْماً وَعِلْماً وَسَخَّرْنَا مَعَ دَاوُودَ
الْجِبَالَ يُسَبِّحْنَ وَالطَّيْرَ وَكُنَّا فَاعِلِينَ) الأنبياء:٧٩ (
Artinya: Maka Kami telah memberikan pengertian kepada Sulaiman tentang hukum (yang
lebih tepat); dan kepada masing-masing mereka telah Kami berikan hikmah dan
ilmu dan telah Kami tundukkan gunung-gunung dan burung-burung, semua bertasbih
bersama Daud. Dan Kami lah yang melakukannya. (Qs. Al-Anbiyaa’:79)
Dengan demikian pendidikan bukanlah sebuah
proses yang asal-asalan atau asal jadi, pendidikan mempunyai tujuan yang harus
dilaksanakan dengan serius, sungguh-sungguh, penuh perencanaan dan sistematis.
Oleh karena itu, untuk mencapai tujuan pendidikan dengan baik maka harus
memiliki unsur-unsur dan faktor-faktor pendidikan yang akan membantu jalannya
sebuah proses pendidikan, baik itu berupa kurikulum, metode, pendidik, peserta
didik, sarana atau prasarana dan sebagainya.
Metode pendidikan Islam adalah metode yang perfect
atau metode yang paling sempurna, hal ini benar menurut hemat penulis, karena
pendidikan Islam bukan hanya pendidikan yang hanya saja mengutamakan pada nilai
teori atau nilai “angka rapor” saja, akan tetapi tujuan pendidikan Islam juga
mengharapkan dan mengutamakan (value) atau nilai-nilai yang dianya dapat
kita ukur dan dapat kita aplikasikan baik secara lahiriyah maupun secara
bathiniyah.
Oleh sebab itu, dalam proses bejajar mengajar
pendidikan Islam tidak hanya cukup jika hanya dengan menggunakan satu metode
atau satu tekhnik saja, akan tetapi harus dibarengi dan dilalui dengan beberapa
tekhnik yaitu:
1)
Tekhnik mendengar, yaitu tekhnik mendengar dan menyimak
dengan baik apa yang disampaikan. Sebagaimana kita ketahui bahwa mendengar
masih terus dipakai sebagai alat untuk mencapai dan mendapatkan ilmu
pengetahuan.
2)
Tekhnik membaca, yaitu tekhnik memahami setiap apa yang
didapatinya dengan cara menyelami dan berfikir apa yang tersirat dari setiap
kalimat atau kata.
3)
Tekhnik mengalihkan realitas indrawi kepada realitas
kejiwaan, yaitu tekhnik untuk memperkuat dan meyakini sebuah teori ilmu
pengetahuan.
4)
Tekhnik pertanyaan untuk menyelami kecerdasan dan
pemahaman,[1] yaitu metode dengan mengajukan pertanyaaan
yang materinya belum pernah di bahas sama sekali. Hal ini dapat dilakukan oleh
seorang guru sebelum memulai pelajaran. Tehknik ini sering di sebut dengan “free
test”.
5)
Tekhnik argumentasi.
6)
Tekhnik mengarahkan kepada pemikiran yang bernilai
tinggi, yaitu tehknik melihat dan memahami sesuatu bukan hanya hanya dari satu
sudut pandang saja.
7)
Tekhnik mendekatkan realitas abstrak dalam bentuk
konkret, yaitu tekhnik mendekatkan kenyataan yang ghaib (abstrak) dalam bentuk
nyata yang seolah-olah dapat dilihat dan di raba (konkret).[2]
8)
Tekhnik peragaan, yaitu tekhnik menggambarkan atau
mendekatkan sesuatu seperti kenyataan sehingga murid lebih mengerti atau paham
dengan apa yang kita sampaikan.[3]
Jika kita melihat metode tafhim
adalah metode yang mencoba memberikan pemahaman kepada anak didik secara baik,
maka dari segi psikologi metode tafhim adalah metode yang mengharuskan
pendidikan dengan mengikutsertakan intelligence quotient (kecerdasan
otak), emosional quotient (kecerdasan emosi) dan spiritual quotient (kecerdasan
hati).
Selain akal atau otak, dalam metode
tafhim juga harus ada unsur hati untuk dapat memahami sesuatu dengan baik,
memahami tidak hanya cukup jika hanya dengan akal, akan tetapi juga dengan
hati. Hal ini sebagaimana yang telah difirmankan oleh Allah Swt dalam Al-Qur’an
surat Qaaf ayat 37:
إِنَّ فِي ذَلِكَ لَذِكْرَى لِمَن كَانَ
لَهُ قَلْبٌ أَوْ أَلْقَى السَّمْعَ وَهُوَ شَهِيدٌ) ق: ٣٧(
Artinya: Sesungguhnya pada yang demikian itu
benar-benar terdapat peringatan bagi orang-orang yang mempunyai hati atau yang menggunakan
pendengarannya, sedang dia menyaksikannya. (Qs. Qaaf: 37)
Dari ayat di atas kita dapat melihat
bahwa Allah Swt memaknai hati disini bukan secara lughawi, akan tetapi
fungsi hati disini jika kita tinjau dari segi pendidikan adalah sebagai alat untuk
mampu mengerti dan memahami segala sesuatu secara baik, mendalam dan
komprehensif.
Dalam pendidikan Islam, hati punya
peran utama dan sasaran pertama, hal ini dapat kita lihat bahwa hati adalah
berfungsi dalam meyakini dan punya kekuatan dalam menguasai setiap individu
manusia. Walaupun akal sudah mampu mengetahui suatu hal, akan tetapi jika belum
dapat difahami sampai ke pemahaman hati maka tidak akan menjadi sebuah ilmu
yang sempurna yang dapat dan mampu diaplikasikan oleh setiap anak manusia.
Sedangkan emosi merupakan salah satu
sikap yang menjadi bahagian dari diri manusia. Pengertian emosi tersebut bukan
dipahami secara pengertian bahasa tetapi lebih untuk menunjukan bahwa emosi
tersebut bukan suatu substansi yang kosong belaka, dengan kata lain emosi
adalah salah satu dimensi dari diri manusia yang bernilai.[4]
Berdasarkan latar belakang masalah
diatas, maka penulis
merasa tertarik membahas tentang “Metode Tafhim Dalam Konsep Pendidikan Islam” sehingga
judul ini penulis ambil untuk penulisan proposal skripsi.
B.
Rumusan Masalah
Adapun yang menjadi rumusan
masalahnya adalah sebagai berikut :
1. Bagaimana metode tafhim diaplikasikan dalam
pendidikan Islam?
2. Apa
saja bahagian dari metode tafhim?
C.
Tujuan Pembahasan
1. Untuk
mengetahui bagaimana metode tafhim diaplikasikan
dalam pendidikan Islam.
2. Untuk
mengetahui apa saja bahagian-bahagian metode tafhim.
D.
Kegunaan Pembahasan
Adapun yang
menjadi kegunaan pembahasan dalam penulisan proposal skripsi ini adalah:
1.
Secara teoritis
pembahasan ini bermanfaat bagi para pelaku pendidikan, secara umum dapat
menambah khazanah ilmu pengetahuan khususnya mengenai eksistensi pendidikan
Madrasah menurut Undang – undang No. 20 Tahun 2003. Selain itu hasil pembahasan ini dapat di jadikan bahan
kajian bidang study pendidikan.
2.
Secara praktis,
hasil pembahasan ini dapat memberikan arti dan niliai tambah dalam memperbaiki
dan mengaplikasikan eksistensi pendidikan Madrasah menurut Undang – undang No.
20 Tahun 2003 ini dalam pelaksanaannya. Dengan demikian, pembahasan ini di
harapkan dapat menjadi tambahan referensi dalam dunia pendidikan, khususnya
dalam dunia pendidikan Islam.
E.
Penjelasan Istilah
Adapun istilah yang perlu penulis
jelaskan adalah sebagai berikut :
1.
Metode
Dalam kamus besar bahasa Indonesia,
metode diartikan sebagai cara yang teratur dan berfikir baik-baik untuk
mencapai maksud, atau cara yang bersistem untuk memudahkan
pelaksanaan suatu kegiatan guna mencapai tujuan yang ditentukan.[5]
Dalam bahasa Arab dikenal dengan
istilah thariqah yang berarti” langkah-langkah strategis yang harus
dipersiapkan untuk melakukan suatu pekerjaan. Sedangkan Menurut Ahmad Husain al-Liqaini,
metode adalah langkah-langkah yang diambil guru-guru membantu para murid
merealisasikan tujuan tertentu.[6]
Dan menurut Ahmad Tafsir metode adalah cara yang paling tepat dan cepat dalam
melakukan sesuatu.[7]
Al–Abrasyi mendefinisikan metode sebagai
berikut: “Metode adalah
jalan yang kita tempuh untuk memberi pemahaman kepada murid-murid mengenai
semua materi pelajaran dalam segala macam mata pelajaran”[8]
Maka dari itu, penulis mendefinisikan metode adalah salah satu unsur atau faktor pendidikan
yang sangat penting dan harus selalu diperbaharui atau dikembangkan ke arah
yang lebih baik agar sesuai dengan setiap proses pendidikan dan setiap jenjang
pendidikan karena sebagaimana kita ketahui bahwa pendidikan di kalangan umat
Islam sudah seharusnya berkembang dan harus mengalami perubahan baik dari segi
paradigma, pola fikir, pelaksanaan dan pengelolaan setiap kelembagaan
pendidikan Islam tanpa harus mengenyampingkan atau meninggalkan sumber-sumber
pendidikan Islam itu sendiri yaitu Al-Qur’an dan Hadits.
2.
Tafhim
Tafhim berasal dari bahasa Arab yaitu “فَهَّمَ” yang berarti mengerti atau memahami dalam
istilah bahasa Inggris disebut juga dengan “to understand”.[9]
Sedangkan
menurut penulis, Tafhim adalah suatu metode untuk mendidik anak dengan cara
penyadaran, atau meyadarkan anak didik.
3.
Konsep
Desi
Anwar dalam Kamus lengkap Bahasa Indonesia menjelaskan Konsep adalah rancangan,
atau buram surat-surat dan sebagainya.[10]
Menurut penulis, konsep merupakan pokok pikiran
yang mendasari seluruh pikiran.
4.
Pendidikan Islam
Ramayulis
dalam bukunya Ilmu Pendidikan Islam menjelaskan Istilah “pendidikan”
berasal dari kata didik dengan memberinya awalan "pe" dan akhiran
"kan" mengandung arti perbuatan (hal, cara dan sebagainya). Istilah
pendidikan ini semula berasal dari bahasa Yunani, yaitu paedagogie, yang
berarti bimbingan yang diberikan kepada anak. Istilah ini kemudian
diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris dengan education yang berarti
pengembangan atau bimbingan. Dalam bahasa Arab istilah ini sering diterjemahkan
dengan tarbiyah, yang berarti pendidikan.[11]
Sedangkan
menurut Zakiah Daradjat, pendidikan Islam adalah: pendidikan dengan melalui
ajaran-ajaran agama Islam, yaitu berupa bimbingan dan asuhan terhadap anak
didik agar nantinya setelah selesai dari pendidikan ia dapat memahami,
menghayati dan mengamalkan ajaran-ajaran agama Islam yang telah diyakininya
secara menyeluruh, serta menjadikan ajaran agama Islam itui sebagai suatu
pandangan hidupnya demi keselamatan dan kesejahteraan hidup di dunia dan di
akhirat kelak.[12]
Sedangkan
menurut Penulis pendidikan adalah suatu usaha untuk menyiapkan peserta didik
untuk meyakini, memahami dan mengamalkan ajaran agama Islam sehingga menjadi
manusia yang beriman dan bertaqwa kepada AllahSwt. dan berakhlak mulia dalam
kehidupannya.
F.
Metode Pembahasan
Adapun metodelogi dalam penelitian
ini adalah sebagai berikut:
1.
Pendekatan Penelitian
Metode atau pendekatan yang digunakan dalam membahas skripsi ini
adalah metode deskritif analisis. Deskritif di gunakan agar mampu memahami dan
memberikan gambaran yang jelas mengenai permasalahan yang terkait dengan isi proposal
skripsi ini. Analisis di pakai agar penulis dapat menyusun proposal skripsi ini
dalam bentuk yang sistematis sehingga mengenai pada inti permasalahan dan
memperoleh hasil penelitian yang benar.
2.
Ruang Lingkup penelitian
Adapun ruang lingkup penelitian dalam penulisan skripsi ini adalah : Aplikasi metode tafhim dalam pendidikan Islam, jenis-jenis metode
tafhim.
3.
Sumber Data
Adapun yang menjadi sumber data dalam penelitian ini adalah sebagai
berikut:
1.
Sumber data primer adalah sumber data yang langsung dan segera
diperoleh dari sumber data dan penyelidik untuk tujuan penelitian.[13]. Adapun sumber data primer dalam penelitian ini adalah:
1)
Abdul Fattah Abu ghuddah, 40 Metode Pendidikan dan Pengajaran
Rasulullah Saw, penerjemah Moechtar Zoerni, Bandung: Irsyad Baitus salam, 2009.
2) Armai
Arief, Pengantar Ilmu dan Metodologi Pendidikan Islam, Jakarta: Ciputat
Pers, 2002.
2.
Sumber data skunder adalah sumber data yang lebih dahulu
dikumpulkan dan dilaporkan oleh orang luar penyelidik itu sendiri walau yang
dikumpulkan itu sebenarnya adalah data asli.[14] Data skunder dalam penelitian ini adalah buku-buku yang mempunyai
relevansi untuk memperkuat argumentasi dan melengkapi hasil penelitian ini.
4.
Tehnik Pengumpulan Data
Dalam mengumpulkan data yang diperlukan,
penulis menggunakan teknik library research (telaah pustaka), penulis
berupaya mengumpulkan dta primer dari hasil pembahasan buku-buku, majalah,
kitab, jurnal yang ada kaitannya dengan masalah yang penulis bahas Data sekunder dari buku dan tulisan yang
berkenaan, baik yang implisit maupun eksplisit
dengan masalah yang dikaji.
Adapun teknik library research yang dimaksud disini adalah suatu cara
mengumpulkan data sekunder melalui
perpustakaan yaitu dengan membaca 40 Metode Pendidikan dan Pengajaran
Rasulullah Saw, buku-buku, kitab-kitab, hasil pembahasan
terdahulu yang ada hubungan dengan masalah yang dibahas
5.
Tehnik Analisa Data
Selanjutnya mengenai
teknik analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah sesuai dengan
data yang telah terkumpul yaitu data kualitatif maka dilakukan analisis
dengan cara obyektif atau dengan sebenarnya, dan logis yaitu dengan menggunakan
logika. Data yang dianalisa adalah 40
Metode Pendidikan dan Pengajaran Rasulullah Saw.
Langkah-langkah
menganalisis data adalah sebagai berikut: menganalisis 40 Metode Pendidikan dan Pengajaran Rasulullah Saw dengan tinjauan metode tafhim dalam konsep pendidikan
Islam tersebut. Analisis tersebut dengan
cara membaca memahami data yang sudah diperoleh. Kemudian, mengelompokkan
teks-teks yang ada dalam buku dan menyimpulkan metode tafhim dalam konsep
pendidikan Islam.
G. Sistematika Penulisan
Adapun sistematika dalam penulisan
dalam pembahasan proposal skripsi ini
adalah sebagai berikut :
Pada bab satu terdapat pendahuluan
meliputi : latar belakang masalah, rumusan masalah, tujuan pembahasan, kegunaan
pembahasan, penjelasan istilah, metode pembahasan dan sistematika penulisan.
Sedangkan dalam penulisan skripsi ini untuk
adanya keseragaman dan kesamaan dalam penulisan pengetikan penulis berpedoman
pada buku ” Panduan Penulisan Proposal dan Skripsi yang diterbitkan oleh
Sekolah Tinggi Ilmu Tarbiyah Almuslim Peusangan Kabupaten Bireuen tahun 2009.[15]
DAFTAR PUSTAKA
A.W. Munawir, Kamus Al-Munawir
Arab-Indonesia Terlengkap, Surabaya: Progressif, 1977.
Abdul Fattah Abu ghuddah, 40 Metode
Pendidikan dan Pengajaran Rasulullah Saw, penerjemah Moechtar Zoerni,
Bandung: Irsyad Baitus salam, 2009.
Abuddin Nata, Pemikiran Para Tokoh
Pendidikan Islam, Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 2000.
Ahcmad Sunarto, kamus Lengkap Al-Fikr, (Indonesia:
halim Jaya, 2002).
Ahmad Mustafa Al-Maragi, Tafsir Al-Maragi, penerjemah
Bahrun Abu Bakar, Semarang: Toha Putra, 1993.
Armai Arief, Pengantar Ilmu dan Metodologi
Pendidikan Islam, Jakarta: Ciputat Pers, 2002.
Dedhi Suharto, Qur’anic Quontient, Jakarta:
Yayasan Ukhuwah, 2003.
Fuad Hasan dan Koentjaningrat, Metode-metode
Penelitian Masyarakat,Jakarta: Gramedia, 1977.
Heri Jauhari Muchtar, Fikih Pendidikan, Bandung:
PT Remaja Rosdakarya, 2005.
Omar Muhammad Al-Toumy Al-Syaibany, Falsafah
Pendidikan Islam, Jakarta: Bulan Bintang, 1979.
Syahbuddin Gade, Esei-Esei Pemikiran
Pendidikan Al-Ghazali, Az-Zarnuji, Al-Abrasyi, Dan Asy-Syaibani, Yogyakarta:
AK Group, 2008.
[1]Abdul
Fattah Abu ghuddah, 40 Metode Pendidikan dan Pengajaran Rasulullah Saw, penerjemah
Moechtar Zoerni, (Bandung: Irsyad Baitus salam, 2009), hal. 117
[2]Heri
Jauhari Muchtar, Fikih Pendidikan, (Bandung: PT Remaja Rosdakarya,
2005), hal. 234
[5] Departemen P dan K RI, Kamus Besar Bahasa Indonesia,
(Jakarta: Balai Pustaka, 1992), hal. 580-581.
[6] Fauji Saleh, (mengutip Ahmad Husain al-Liqaini),
Konsep Pendidikan dalam Islam (Pendidikan Keluarga dan Pengaruhnya Terhadap
Anak), (Banda Aceh, Yayasan Pena, 2005), hal. 43
[7] Ahmad Tafsir, Metodologi Pengajaran Agama Islam, Cet ke-7,
( Bandung : PT. Remaja
Rosdakarya,
2003), hal . 9
[8]Syahbuddin
Gade, Esei-Esei Pemikiran Pendidikan Al-Ghazali, Az-Zarnuji, Al-Abrasyi, Dan
Asy-Syaibani, (Yogyakarta: AK Group, 2008), hal. 64
[13] Winarmo
Surachmad,. Dasar dan Teknik Research Pengantar Metodologi Ilmiah, (
Bandung: Angkasa, 1987 ), hal. 163.
[14] Winarmo
Surachmad,. Dasar dan Teknik,....................,hal. 163
[15] Buku
Panduan penulisan Proposal dan Skripsi, Sekolah Tinggi Ilmu Tarbiyah
Almuslim Peusangan Kabupaten Bireuen Tahun 2009

Post a Comment for "Metode Tafhim Dalam Konsep Pendidikan Islam"