Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Pelaksanaan metode Bercerita dalam Pembelajaran PAI


1.     Pelaksanaan metode Bercerita dalam Pembelajaran PAI di Raudhatul Athfal Nurul Hilal Pulo Ara     

Taman Kanak-kanak merupakan lembaga pendidikan bagi usia pra-sekolah atau anak berusia antata 4 sampai 6 tahun. Program pendidikan di Taman Kanak-kanak bukan sekedar mengerjakan pokok bahasan yang telah tertera pada kurikulum, tetapi ditunjang pula dengan kreatifitas guru memberikan improvisasi dalam mengembangkan daya imajinasi anak yang sesuai dengan kondisi anak itu sendiri.
Berdasarkan pengakuan ibu Nur Fitri bahwa:
Dalam melaksanakan pembelajaran dengan metode cerita di Raudhatul Athfal Nurul Hilal, pendidik di sana melakukan beberapa persiapan. Diantaranya persiapan pribadi dan persiapan teknis. Hal ini penting, karena tanpa persiapan, pembelajaran dengan metode cerita ataupun metode-metode lainnya tidak dapat berjalan sesuai dengan yang diinginkan. Persiapan teknis yang dilakukan pendidik Raudhatul Athfal Nurul Hilal seperti keadministrasian (administrasi program tahunan, program semester, satuan kurikulum mingguan, satuan kurikulum harian, absen kelas, daftar perkembangan anak didik) merupakan keharusan jika dihadapkan pada target pencapaian tujuan pembelajaran dengan metode cerita ini. Apa jadinya jika pelaksanaan pembelajaran dengan metode cerita ini tak ada perencanaan seperti SKM (Satuan Kurikulum Mingguan) dan sebagainya, semuanya akan kacau balau.[1]

Selanjutnya hasil wawancara dengan Ibu Dra. Rosmani, beliau menjelaskan bahwa:
Secara umum metode yang digunakan di Raudhatul Athfal Nurul Hilal adalah bermain, menyanyi dan bercerita. Ketiga metode inilah yang sangat digemari oleh anak-anak usia pra-sekolah karena sesuai dengan dunia mereka, apalagi didukung oleh kreatifitas yang dimiliki para guru. Dengan metode bercerita guru dapat memberikan nasehat, bimbingan dan himbauan, sehingga diharapkan nasehat, bimbingan dan himbauan tersebut dapat berbekas dalam diri anak yang dapat dijadikan pedoman dalam tingkah laku.[2]

Para Guru di Raudhatul Athfal Nurul Hilal juga menggunakan metode bercerita dalam memberikan pendidikan agama Islam pada anak didiknya. Dalam menyampaikan cerita, guru mengambil sumber dari Alquran dan Hadits, buku-buku cerita bergambar, majalah atau yang berasal dari pengalaman dan pengamatan guru dengan memperhatikan kondisi anak didik. Tujuan ide bercerita itu sendiri berupa nasehat guna memperbaiki sikap anak didik, diharapkan agar anak didik tidak merasa dinasehati dan dilarang oleh guru.
Berdasarkan dari hasil wawancara dengan Ibu Eliza, S.Pd,  beliau menjelaskan bahwa:
Siswa Raudhatul Athfal Nurul Hilal tertarik pada cerita-cerita pendek yang berkisah tentang peristiwa yang sering dialaminya atau dekat dengan kehidupannya sehari-hari. Hal ini sangat membantu perkembangan keagamaannya, karena pada usia pra-sekolah condong untuk meniru. Maka setiap cerita yang disampaikan, didengar, dilihat dan dibaca, oleh anak hendaknya mempunyai mutu dan nilai-nilai pedagogis, agar jangan sampai mereka menemukan tauladan tauladan yang tidak baik dalam cerita-cerita tersebut.[3]

Dalam kegiatan proses belajar mengajar hal yang terpenting dan utama tergantung dari peran seorang guru dalam mengekspresikan serita. Para guru di Raudhatul Athfal Nurul Hilal diberi kebebasan untuk mengekspresikan cerita sesuai dengan keadaan lapangan selama tidak menyimpang dari aspek pedagogis dan prinsip-prinsip belajar mengajar di Taman Kanak-kanak.


               [1] Hasil Wawancara Penulis dengan Ibu Nur Fitri guru Raudhatul Athfal Nurul Hilal pada tanggal 06 Juni 2014.

               [2] Hasil Wawancara Penulis dengan Ibu Dra. Rosmani Kepala Raudhatul Athfal Nurul Hilal pada tanggal 07 Juni 2014.
               [3] Hasil Wawancara Penulis dengan Ibu Eliza, S.Pd guru Raudhatul Athfal Nurul Hilal pada tanggal 07 Juni 2014.


Post a Comment for "Pelaksanaan metode Bercerita dalam Pembelajaran PAI"