Pengaruh Liberalisme terhadap Islam
A.
Pengaruh Liberalisme terhadap Islam
Tidaklah mudah bagi seseorang untuk memberikan pemikiran
tentang liberalisme, apakah dapat diposisikan sebagai liberalisme Islami atau
berbau Marxisme, sebelum memahami secara konseptual dan operasional tentang liberalisme
tersebut. Sebab, biasanya orang cenderung menganggap bahwa liberalisme adalah
produk Barat atau faham asing yang tidak layak untuk diterapkan di dunia Islam.
Uraian dalam sub bab ini menggambarkan liberalisme Islam Kamal dengan berusaha menetap posisi liberalisme
Turki,[1]
apakah cenderung kepada liberalisme Islam atau sebaliknya yaitu cenderung atau
dipengaruhi oleh liberal Barat yang pada waktu itu sedang marak di negara Inggris.
Sebagai aktor liberalisme Islam dengan terang-terangan
mengemukakan bahwa liberalisme Islam, yang ingin diterapkannya tidaklah sama
dengan Libralisme Barat. Menurut Nasser perbedaan yang sangat esensial antara
kedua ideologi ini adalah yang berkaitan dengan agama. Kita, kata Nasser orang
yang beragama, dan kita beriman kepada Allah, sedangkan negara dan orang Barat meninggalkan
agama dan menggantikan kedudukan agama dengan faham sosialis.[2]
Jika disiasati pernyataan-pernyataan Nasser tersebut dan
dihubungan dengan isi piagam nasional (al-Mitsaqal-Wathanit) yang
dikeluarkan pada tahun 1961 itu, maka akan semakin jelas bahwa liberalisme
Islam mempunyai ciri-ciri yang membedakannya dengan liberalisme lain.
Sejalan dengan dikumandangkannya teori liberalisme Islam oleh
Kamal , di Turki muncul pula teori Islam Liberal yang dicetus oleh Mustafa
as-Siba’i, prinsip Ikhwan al-Muslimin dan Sayyid Quthb, Syaltut Rektor
Universitas al-Azhar pada waktu itu.
Ternyata buku as-Siba’i yang berjudul “al-Istirakiyyah
al-Islam” yang berisi tentang liberalisme Islam diterima oleh Kamal ,
karena ia melihat bahwa buku itu cocok dengan faham liberalisme yang
dikumandangkannya. Bahkan Kamal juga
menyetir isi buku itu untuk dijadikan argumen bagi liberalismenya, kenyataan
bahwa buku itu direkomendasi dan dicetak dengan badan resmi menambah bukti
bahwa pemerintah Kamal menyutujui
isinya.[3]
Sedangkan pemikiran Quthb barang kali karena alasan yang dikesampingkan oleh
pemerintah Kamal , pada hal pemikirannya tidaklah banyak berbeda dengan
as-Siba’i..[4]
Di sisi lain sosialisme Islam yang ditampilkan oleh Kamal
itu tidaklah terlepas dari pengaruh
pemikiran liberalisme Barat. Hal ini dijelaskan oleh Muhammad al-Bahiy yang
telah menemukan adanya mata rantai ajaran liberalisme yang masuk ke dalam
pembaharuan pemikiran Islam, terutama setelah perang dunia II pada umumnya
pemikiran liberalisme Barat disusup secara perlahan-lahan dengan bentuk
pemakaian istilah-istilah republik, kemudian menyusup pemikiran liberal Barat ke
dalam pemikiran umat Islam yang berbentuk ide-ide yang memungkinkan diterima
oleh rasio masyarakat Islam.
Pemikiran Barat yang masuk ke dalam pembaharuan pemikiran
Islam di Turki berusaha diberi cap (label) local agar diterima masyarakat Turki,
sehingga mereka yakin bahwa ide liberal tersebut seolah-olah muncul dari
realitas lingkungan umat Islam dan dianggap sesuai dengan kepribadian Islam.[5]
Salah satunya buku “Min Huna Nabda” memberikan uraian
yang dilengkapi dengan ayat-ayat al-Qur’an dan kemudian ditafsirkan sesuai
dengan unsur-unsur pemikiran liberal. Buku kedua menerangkan tentang agama, sulthan,
khalifah dan istilah-istilah lain dalam peradaban Islam. Sedangkan buku ketiga
mengungkapkan tentang persamaan hak perempuan dalam perkawinan, yang
dikembangkan di Turki yang diramu dengan nukilan Ibnu Khaldun. Penulis ketiga
dari buku tersebut lebih pandai dari penulis-penulis lainnya, dalam meletakkan
unsur-unsur liberalisme.[6]
Sesuai dengan propaganda Barat dalam buku tersebut bukan
secara langsung atau secara terus terang, tetapi berusaha menyesuaikan dengan
situasi dan kondisi di negara Islam dengan menyelipkan unsur-unsur liberal,
misalnya uraian tentang khalifah dan sulthan, pertentangan antara kaum Barat dan
kaum Islam dan penafsiran sejarah.[7]
Berdasarkan keterangan-keterangan di atas, maka dapat
disimpulkan bahwa posisi liberalisme Mustafa Kamal terletak di antara liberalisme Islam dengan liberalisme
Barat. Hal ini terlihat dari ada pengaruh dari liberalisme Barat baik secara
langsung atau secara tersembunyi. Dan hal telah diungkapkan oleh Muhammad
al-Bahiy yang merupakan tokoh pembaharuan Islam yang mencoba menyelidiki
kebenaran liberalisme Islam.
Tokoh ini adalah seorang yang menamakan liberalismenya dengan libralisme
Islam, yang nama lengkapnya Mustafa Kamal at-Taturk. Dikatakan sebagai tokoh libralisme
Islam karena dasar liberal demokratik dilaksanakan dalam kawasan Turki dan
ditegakkan dalam wilayah penduduk berbangsa Arab. Demikian menurut penjelasan Kamal
menjelang diundangkannya al-Mitsqat
al-Wathaniy pada tahun 1922. Menurut keyakinan Kamal , bahwa liberalisme
Islam adalah merupakan jalan bagi kebebasan masyarakat dan kebebasan masyarakat
tidak mungkin terealisasi kecuali dengan pembentukan Negara Republik.[8]
Di samping itu, liberalisme yang dikehendaki oleh Kamal adalah upaya untuk menegakkan keadilan dan
persamaan bagi masyarakat Turki. Karena itu, tatanan masyarakat baru yang
dikehendaki oleh Kamal adalah, adanya konsep
masyarakat yang dinamis, yaitu yang saling membantu dalam menjaga keutuhan negara
sebagaimana milik individu dan menggalang kerja sama yang serasi dengan negara-negara
Barat memenuhi kebutuhan negara. Jadi, libralisme Islam yang dikehendaki oleh Kamal
adanya perubahan politik untuk menjaga seluruh
rakyat pada waktu itu.[9] Pemikiran Kamal tersebut oleh beberapa penulis disebut Nassirm,
Nasiriyah, atau lebih dikenal dengan sebutan sosialisme Islam,
bahkan ada juga yang menyebutnya sosialisme radikal.
Liberalisme yang dikembangkan di negara Turki bukanlah teori
yang ditransper dari pemikiran Barat ataupun Timur, melainkan libralisme Islam
yang benar-benar lahir, tumbuh dan berkembang di negara Turki itu sendiri yang
ditopang oleh agama dan berdasarkan pengalaman peradaban yang sangat panjang
sebagaimana prinsip keadilan sosial yang tertuang dalam dasar revolusi semenjak
tahun 1952. Dengan demikian libralisme Islam berbeda dengan liberalisme-liberalisme
lainnya. Sebagaimana telah ditegaskan oleh Kamal sendiri
sebagai berikut:
1.
Sesungguhnya
liberalisme kita dasarkan kepada keimanan kepada Allah SWT dan Rasul-Nya,
sedangkan Barat mengingkari adanya Tuhan.
2.
Liberalisme kita memindahkan masyarakat dari kediktatoran
kepada demokrasi. Sedangkan Barat mengalihkan dari diktator
borjuis kepada diktator proletar.
3.
Liberalisme
kita mengakui hak warga negara, sedangkan liberalisme Barat tidak mengakui hak
warga negara.[10]
Pernyataan di atas, merupakan argumen Kamal
untuk membedakan antara liberalisme
Islam dengan liberalisme lainnya. Kamal sendiri
menyebutkan libralismenya dengan nama al-Mujtanik
al-Asytirakiy al-Mokrathiy
al-Ta’awuniy. Untuk merealisasikan
konsep libralisme Islam, di samping diadakan liberalisme melalui lembaga
pendidikan, fatwa ulama, media massa ,
juga diterbitkan beberapa perundangan dan kebijakan lain
serta dibentuk suatu kelembagaan yang mempunyai organisasi dan tata kerja yang
mapan.
[1]Bryan
S. Turner, Libralisme dan Revolusi Sosial dalam Islam, Bandung : Nuansa, 2000, hal. 132
[2]Al-Adwi,
Qadat al-Tahriri al-‘Araby, Kairo: Al-Dar al-Qawuriyyah li-al-Thiba’as,
t.t., hal. 235-236
[3]Hamid
Enayah, Modern Islamic Political Thought, London , Mc Millan Press, 1982, hal. 144
[5]Muhammad
al-Bahiy, Pemikiran Islam Modern, Terj. Saidi Said, Jakarta : Pustaka Panjimas, 1986, hal. 236
[8]Abdul
Hamid Bukhait, Al-Mujtama’ al-Araby al-Islamy, Juz. I, Mesir: Dar
al-Ma’arif, 1965, hal. 449
[10]Ibrahim
Ahmad an-Nadwij, Qadhat al-Tasrir al-Arabiy, Kairo: Al-Dar al-Qanmiyyat,
t.t., hal. 235

Post a Comment for "Pengaruh Liberalisme terhadap Islam"