Revolusi Islam Turki Masa Mustafa Kamal at-Taturk
A. Revolusi
Islam Turki Masa Mustafa Kamal at-Taturk
Setelah
berabad-abad Turki Utsmani pernah menguasai seluruh Jazirah Arab dan sebagai Eropa.
Namun ketika Turki masih jaya, Eropa menganggapnya sebagai ancaman, sehingga
mereka berusaha kembali merebut wilayah Eropa yang pernah dikuasai Turki. Tetapi
di sisi lain berbagai upaya dilakukan Barat untuk memberi visi baru bagi
modernisasi di Turki.
Berbagai konflik yang
terjadi dengan Barat, dinasti Turki Utsmani mampu mengalahkannya dan mampu
mencegah pasukan Barat untuk mencapai tempat-tempat suci umat Islam. Akibat kegagalan
inilah yang mendorong bangsa Barat makin giat menggalang persengkongkolan untuk
meruntuhkan Daulah Utsmaniyah secara total.[1] Berbagai
strategi mereka lancarkan baik melalui provokasi politik maupun melalui
kekuatan senjata yang bertujuan untuk memporakporandakan umat Islam.
Bangsa Barat menyadari
benar kekuatan Turki yang hebat itu terletak pada tentaranya yang bersemangat
Islam. Dari itu mereka melakukan infiltirasi ke dalam kubu tentara dengan cara
mematikan semangat Islam dari jiwanya dan kemudian memasukkan ajaran-ajaran
liberal dan faham nasionalisme. Cara ini dilakukan untuk memukul Islam dari
dalam yakni melalui perantaraan tentara Islam itu sendiri.[2] Dengan
segala daya mereka yang lakukan akhirnya berhasil menjadi guru dan pelatih
tentara Turki dan bahkan menjadi panglimanya. Begitu tentara Turki dilatih oleh
jenderal-jenderal Barat, dan para jenderal tersebut memasukkan ajaran tentang
nasionalisme dan doktrin demokrasi untuk menggulingkan sistem kekhalifahan.
Tiga belas tahun sebelum
kelahiran Mustafa Kamal , yakni tahun 1869, Turki diperintah oleh Daulah
Utsmaniyah yang telah berhasil membangun undang-undang perdata. Pada saat itu
merupakan masa perkembangan mazhab Hanafi dan Syafi’i di Turki, kemudian
diundangkan pada tahun 1876. Sejarah tersebut menunjukkan pada dunia bahwa
Turki pra revolusi Kamal, lebih banyak dalam perbedaan faham-faham keagamaan
serta hukum secara dinamis. Perkembangan Islam berputar-putar di sekitar
masalah fiqh dan ritualistic, serta mengisolasikan diri dari dunia Barat.[3]
Dipungkiri atau
tidak sebenarnya kebesaran Turki Utsmani pada masanya sangat berkaitan dengan
kegemilangan pemerintah dalam merealisasikan ajaran Islam. Dengan menggunakan
simbol-simbol agama seperti sebutan sultan atau khalifah, Turki Utsmani
berhasil mengikat kesetiaan dan simpati dunia Islam waktu itu untuk menopang
kekuasaannya. Kombinasi antara spirit dan simbol agama dengan ambisi dinasti
untuk berkuasa dan kemudian didukung dengan kekuatan militer menjadikan Turki
Utsmani berkembang sebagai kekaisaran terbesar dalam sejarah dunia.
Sikap ambisius
kekuasaan dan semangat agama yang didasari pemahaman sempit tersebut ternyata
membuat Turki Utsmani tumpu visi intelektualnya. Sikap terbuka dan apresiatif
yang dimiliki Islam sebelumnya terhadap peradaban luar seperti Yunani ,
Persia , India dan China ternyata tidak dimiliki oleh
penguasa Turki Utsmani saat itu. Salah satu akibatnya Turki Utsmani menyadari
bahwa dirinya dalam keadaan bahaya, di mana Eropa sedang bangkit dan berusaha
menggilas kebesarannya.
Kesadaran terhadap
bahaya muncul dari kalangan intelektual, namun pihak istana tidak mampu
menangkap pandangan yang mereka kemukakan. Gerakan tanzimat dan kemudian Turki
Muda adalah gerakan pembaharuan yang secara sadar ingin menyelamatkan Turki
dari ancaman kehancuran. Hampir semua intelektual yang bergabung dalam gerakan
Duta Turki Utsmani di luar negeri melihat dan mengamati derap revolusi,
modernisasi dan libralisasi yang terjadi di Eropa, mereka kemudian pulang ke
Turki untuk menyebarkan dan menggerakkan ide pembaharuan bagi Turki Utsmani.[4]
Gerakan Turki
Muda yang membawa misi kemerdekaan, kebebasan, keadilan dan persamaan hak,
tentunya sangat ditentang oleh pihak istana yang tidak menghendaki adanya
pemisahan kekuasaan, karena ditakutkan akan menggeser eksistensi dinasti Turki Utsmani.
Maka solusi yang digunakan adalah cara kekerasan dengan mematahkan gerakan
Turki Muda. Namun demikian pihak penguasa tidak sadar bahwa mematahkan gerakan
pembaharuan pada saat seperti tidak berarti juga mematahkan rantai estafet bagi
kemajuan peradaban Islam untuk memasuki dunia modern.
Pada awal abad ke
20, Turki yang pernah jaya itu perlahan-lahan mulai runtuh sampai akhirnya
banyak negeri yang semula berada di bawah kekuasannya memproklamirkan diri
sebagai negeri yang merdeka. Kehancuran Turki Utsmani terjadi setelah perang dunia I. dalam perang itu bangsa
Turki yang bersekutu dengan Jerman dan Austria menderita kekalahan.
Akibatnya kerajaan itu banyak kehilangan wilayahnya yang non Turki seperti
Yunani, Yugoslavia, Bulgaria, Hingaria, Rumania, Albania, dan tanah-tanah Arab
di Timur Tengah.[5]
Sebenarnya pada permulaan perang, Turki Utsmani bingung kemana harus berpihak,
kepada Jerman atau kepada Inggris dan sekutu-sekutunya.
Pemerintah Turki
khawatir apabila perang besar itu selesai, dan kedua pihak yang berperang sepakat
berdamai untuk menundukkan Turki. Lalu pemerintah Turki menyatakan kepada
mereka bahwa Turki ditolak, mereka berharap agar Turki bersikap netral.
Penolakan itu sebenarnya disebabkan oleh satu prinsip; jika pihak sekutu
menerima bantuan dari pemerintah Islam, niscaya akan sulit bagi mereka untuk
membagi-bagikan negeri Islam sehabis perang nantinya. Karena penolakan pihak
sekutu, akhirnya Turki Utsmani berpihak pada Jerman. Dengan demikian, Turki
Utsmani turut pula dalam kekalahan.[6]
Akibat dari
kekalahan ini, tinggallah sultan yang masih bertahan di Istambul. Sementara
tentara sekutu menyampaikan ultimatum kepada sultan supaya dibentuk satu
cabinet baru yang mesti daripada orang-orang yang dipandang pro sekutu. Dalam
keadaan demikian Turki memang sedikit beruntung karena pihak sekutu tidaklah
merampas dan menguasai konstantinopel (Istambul) yang merupakan pusaka Byzantium yang telah
hilang 500 tahun yang lalu. Namun demikian kedudukan Sultan Turki hanyalah akan
dijadikan semacam boneka belaka.[7]
Akan tetapi di Anatolia juga muncul gerakan perlawanan dari kaum
nasionalis yang berusaha untuk menegakkan citra Turki. Mereka menyusun strategi
dan kekuatan untuk dapat mengusir sekutu dari wilayahnya. Gerakan nasionalis
ini juga menginginkan pembentukan sebuah Negara baru yang demokratis dan
modern. Berkat keberanian Mustafa Kamal yang waktu itu menjabat panglima perang, Turki
berhasil menghalau pihak sekutu.
Dalam konferensi
San Remo di Perancis diputuskan bahwa seluruh daerah kekuasaan Turki Utsmani
diambil alih oleh sekutu, kecuali hanya satu Istambul. Delegasi yang ikut dalam
perundingan itu terpaksa menerimanya karena tidak ada jalan lain.
Mendengar
ditandatanganinya perjanjian San Remo , maka
sejak saat Kamal tidak mengakui lagi pemerintahan di Istambul dan berusaha
membentuk satu pemerintahan bari di Ankara .
Pada bulan
Oktober 1922 pihak sekutu mengundang Sultan Muhammad Wahid al-Din (1918-1922)
untuk menghadiri konferensi Lausanne .
Undangan ini oleh Ankara
dipandang sebagai penghinaan, karena sultan dianggap penguasa tanpa Negara.
Pada tanggal 17 November 1922 sultan tersebut terpaksa melarikan diri ke Malta .
Kemenakannya Abdul Majid, diangkat sebagai pemimpin baru tanpa memiliki
kekuatan politik. Hapusnya kesultanan mengakhiri dualisme pemerintahan yang
berlangsung semenjak terbentuknya pemerintahan tandingan di Ankara .[8]
Pada tanggal 23
Juli 1923 ditandatangai perjanjian Lusanne dan pemerintahan Mustafa Kamal mendapat pengakuan Internasional. Sebagai
penguasa defacto dan dejure di Turki.[9] Turki
secara resmi diproklamirkan sebagai Negara Republik pada tanggal 30 Oktober
1923 dan Ankara
ditetapkan sebagai Ibukota Negara. Itulah akhir sebuah perjalanan dinasti Turki
dan pergerakan kea rah modernisasi Negara terus berlanjut sebuah negera yang
diidam-idamkan oleh kalangan intelektual Turki. Sedangkan Sultan Abdul Hamid
sebagai pemerintahan terakhir dalam Dinasti Utsmani terpaksa mengasingkan diri
ke Swiss.
[1]Ismail al-Killany, Sekularisme;
Upaya Memisahkan Agama dan Negara, Terj. Kathur Suhadi, Jakarta : Pustaka al-Kautsar, 1992, hal. 183
[2]Firdaus AN., Mutiara
Dakwah, Jakarta :
Pedoman Ilmu Jaya, 1983, hal. 40
[3]Ahmad Faisal, Op. cit,
hal. 80
[4]Komaruddin Hidayat, Op.
cit, hal. 39
[5]Said Muchsin, Dari
Kesultanan ke Republik, Serambi Indonesia , 30 Desember 1995, hal. 9
[6]Ismail Ya’cob, Orientalisme
dan Orientalisten, Surabaya :
Faizan, t.t., hal. 40
[7]HAMKA, Sejarah Umat Islam,
Jil. II, Jakarta :
Bulan Bintang, 1975, hal. 327
[8]Departemen Agama RI, Op.
cit, hal. 814
[9]Harun Nasution, Op. cit,
hal. 147

Post a Comment for "Revolusi Islam Turki Masa Mustafa Kamal at-Taturk"