Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Ihsan Orang Tua Dan Pengaruhnya Terhadap Pembinaan Keluarga


BAB I
P E N D A H U L U A N


A.    Latar Belakang Masalah
Ihsan yaitu seorang manusia menyembah Robbnya dengan ibadah yang dipenuhi rasa harap dan keinginan, seolah-olah dia melihat-Nya sehingga diapun sangat ingin sampai kepada-Nya, dan ini adalah derajat ihsan yang paling sempurna. Tapi bila dia tidak bisa mencapai kondisi semacam ini maka hendaknya dia berada di derajat kedua yaitu: menyembah kepada Allah dengan ibadah yang dipenuhi rasa takut dan cemas dari tertimpa siksa-Nya, oleh karena itulah Nabi bersabda,
............. قَالَ فَأَخْبِرْنِي عَنِ اْلإِحْسَانِ، قَالَ: أَنْ تَعْبُدَ اللهَ كَأَنَّكَ تَرَاهُ فَإِنْ لَمْ تَكُنْ تَرَاهُ فَإِنَّهُ يَرَاكَ )......رواه مسلم(
Artinya:     “Khabarkanlah kepadaku tentang ihsan?”Rasulullah bersabda, “Engkau beribadah kepada Allah seolah-olah engkau melihat-Nya. Jika engkau tidak melihat-Nya, sesungguhnya Dia melihatmu.” (HR. Muslim)[1]

Jadi tingkatan ihsan ini mencakup perkara lahir maupun batin. Ihsan menjadikan kita sosok yang mendapatkan kemuliaan darinya. Sebaliknya, seorang hamba yang tidak mampu mencapai target ini akan kehilangan kesempatan yang sangat mahal untuk menduduki posisi terhormat di mata Allah SWT. Sehingga seluruh ajaran-ajaran mengarah pada satu hal, yaitu mencapai ibadah yang sempurna dan akhlak yang mulia.
Hal ini sesuai dengan firman Allah SWT. Dalam Al-qur’an surat Alqashas ayat 77:
وَابْتَغِ فِيمَا آتَاكَ اللَّهُ الدَّارَ الْآخِرَةَ وَلَا تَنسَ نَصِيبَكَ مِنَ الدُّنْيَا وَأَحْسِن كَمَا أَحْسَنَ اللَّهُ إِلَيْكَ وَلَا تَبْغِ الْفَسَادَ فِي الْأَرْضِ إِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ الْمُفْسِدِينَ (القصص : ٧٧ )
Artinya: Dan carilah pada apa yang Telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (kenikmatan) duniawi dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah Telah berbuat baik, kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusaka (Qs. Al-Qashas : 77)
Rasulullah SAW selaku penyampai risalah Islam yang mulia merupakan cerminan yang komprehensif untuk mencapai kesempurnaan sikap, prilaku, dan pola pikir. Bahkan sayyidah ‘Aisyah tatkala ditanya oleh beberapa sahabat mengenai pribadi Rasulullah SAW menyebutkan bahwa Rasulullah itu adalah Al-Qur’an berjalan. Artinya semua kaidah kehidupan yang ditetapkan islam melalui Al-Qur’an semuanya contoh sudah terdapat dan dijumpai dalam diri Rasulullah SAW. Beliau bukan hanya menjadi seorang nabi, tapi juga kepala negara. Beliau tidak cuma sekadar bapak tapi juga guru dengan teladan yang baik. Allah SWT sendiri telah memuji keluhuran pribadi Rasulullah SAW.
Dalam Al – qur’an surat Al – ahzab ayat 21 Allah SWT menjelskan tentang keteladan yang terdapat pada diri Rasulullah SAW.
لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِّمَن كَانَ يَرْجُو اللَّهَ وَالْيَوْمَ الْآخِرَ وَذَكَرَ اللَّهَ كَثِيراً(الأحزاب: ٢١)
Artinya:   Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang         (kedatangan) hari kiamat dan Dia banyak menyebut Allah.                   (QS.Al-Ahzab : 21)
Tujuan pendidikan merupakan suatu kondisi yang menjadi target penyampaian pengetahuan. Tujuan ini merupakan acuan dan panduan untuk seluruh kegiatan yang terdapat dalam sistem pendidikan. Jadi, tujuan pendidikan dalam Islam adalah upaya sadar, terstruktur, terprogram, dan sistematis dalam rangka membentuk manusia yang sempurna.
Keluarga merupakan komponen utama yang terdapat dalam suatu kelompok masyarakat. Dengan baiknya sebuah keluarga maka akan baik pula masyarakat, demikian pula sebaliknya, jika suatu keluarga itu tidak baik atau berakhlak tidak terpuji maka masyarakat akan terganggu karenanya. Keluarga yang dituntut oleh ajaran Islam adalah keluarga yang selalu berdasarkan kepada Al-qur’an dan sunnah Rasulullah yaitu yang penuh dengan ajaran dan nilai-nilai keagamaan yang tinggi, tidak mungkin diputar balikkan oleh keadaan dan waktu.
Alangkah luhurnya ajaran Islam yang telah mengatur semua tatacara hidup manusia demi untuk mencapai kesejahteraan hidup manusia baik didunia maupun akhirat. Akan tetapi masih ada juga orang yang tidak menjadikan petunjuk-petunjuk Al-qur’an dan sunnah sebagai dasar dalam pembinaan rumah tangga. Padahal petunjuk Al-qur’an adalah petunjuk yang sangat sempurna. Allah telah menyebutkan dalam beberapa ayat Al-Quran yang berkaitan dengan cara hidup berkeluarga ( berumah tangga ) yang benar berbentuk rumah tangga yang selalu damai dan tentram serta penuh dengan suasana rumah yang islami. Demikian juga dengan hadits-hadits Rasulullah telah menyebutkan tentang tatacara hidup berumah tangga, serta mengemukakan teori-teori yang yang berhubungan dengan itu.
Rumah tangga adalah suatu kelompok sosial terdiri dari ayah, ibu dan anak-anak yang merupakan hasil pernikahan., seperti yang telah diatur dalam ajaran islam, di tambah dengan warga yang lain yang tinggal dan hidup bersama dalam suatu rumah  sehingga merupakan satu kesatuaan. Allah menciptakan manusia berpasang-pasang di muka bumi dan diberikan pada manusia naluri (keinginan-keinginan) wajar untuk mempertahankan hidupnya, dengan ada naluri tersebut maka manusia berkembang melalui keturunan-keturunan mereka. Rasulullah saw juga menganjurkan kepada umatnya untuk melakukan perkawinan karena perkawinan itu merupakan salah satu ibadah. Agar terhindar dari hal-hal dan perbuatan yang tidak terpuji juga akan memelihara pandangan.[2]
Di dalam al-Qur`an banyak sekali anjuran bagi seseorang agar berbuat baik untuk mendapatkan cinta Allah, jaminan mendapat dukungan, tidak hilang pahala, dekatnya rahmat darinya, dan diberikan hukum dan ilmu sebagai balasan perbuatan baiknya, dan untuknya di akhirat al-Husna (surga) dan tambahan (melihat Allah di surga), keselamatan, dan apa yang dikehendakinya.
Diantara aplikasi ihsan dalam keluarga adalah:Memakan Makanan yang Bersih, Mengkonsumsi pangan bersih adalah satu perintah Ilahiah yang harus selalu ada dalam kalbu semua makhluk beriman. Seperti firman Allah dalam Al-qur’an surat Al – baqarah ayat 57:
وَظَلَّلْنَا عَلَيْكُمُ الْغَمَامَ وَأَنزَلْنَا عَلَيْكُمُ الْمَنَّ وَالسَّلْوَى كُلُواْ مِن طَيِّبَاتِ مَا رَزَقْنَاكُمْ وَمَا ظَلَمُونَا وَلَـكِن كَانُواْ أَنفُسَهُمْ يَظْلِمُونَ﴿البقرة:٥٧
Artinya: Makanlah dari makanan yang baik-baik yang telah Kami berikan kepadamu. Dan tidaklah mereka menganiaya Kami, melainkan mereka menganiaya diri mereka sendiri. (QS.al-Baqarah: 57).
Menurut konsep dalam Islam, proses tarbiyah (pendidikan) yang baik mempunyai tujuan untuk melahirkan suatu generasi baru dengan segala ciri-cirinya yang unggul dan beradab. Penciptaan generasi ini dilakukan dengan penuh keikhlasan dan ketulusan yang sepenuhnya dan seutuhnya kepada Allah SWT melalui proses tarbiyah. Melalui proses tarbiyah inilah, Allah SWT telah menampilkan peribadi muslim yang merupakan uswah dan qudwah melalui Muhammad SAW. Peribadinya merupakan manifestasi dan jelmaan dari segala nilai dan norma ajaran Al-Qur’an dan sunah Rasulullah SAW.
            Berdasarkan latar belakang masalah diatas, penulis merasa tertarik dengan permasalahan ini dan berniat melakukan telaah secara khusus dengan mengangkat sebuah judul dalam penulisan karya ilmiah/ skripsi : ” ihsan orang tua dan pengaruhnya terhadap pembinaan keluarga”

B.    Rumusan Masalah
Adapun  yang menjadi rumusan masalah dalam penulisan proposal skripsi  ini adalah sebagai berikut : 
1.     Bagaimana berbuat ihsan dalam Islam?
2.     Bagaimana menerapkan sifat ihsan dalam keluarga ?
3.     Sejauh mana tugas dan tanggung jawab orang tua dalam pembinaan keluarga?
C.    Tujuan Pembahasan
Adapun yang menjadi tujuan pembahasan dalam penulisan proposal skripsi  ini adalah sebagai berikut :
1.   Untuk mengetahui bagaimana berbuat ihsan dalam Islam.
2.   Untuk mengetahui bagaimana menerapkan sifat ihsan dalam keluarga.
3.   Untuk mengetahui sejauh mana tugas dan tanggung jawab orang tua dalam pembinaan keluarga.
D.    Kegunaan Pembahasan
              Adapun yang menjadi kegunaan pembahasan dalam penulisan proposal skripsi ini adalah:
Secara teoritis pembahasan ini bermanfaat bagi para pelaku pendidikan, secara umum dapat menambah khazanah ilmu pengetahuan khususnya mengenai ihsan orang tua dan pengaruhnya terhadap pembinaan keluarga. Selain itu  hasil pembahasan ini dapat di jadikan bahan kajian bidang study pendidikan.
Secara praktis, hasil pembahasan ini dapat memberikan arti dan niliai tambah dalam memperbaiki dan mengaplikasikan ihsan orang tua dan pengaruhnya terhadap pembinaan keluarga ini dalam pelaksanaannya. Dengan demikian, pembahasan ini di harapkan dapat menjadi tambahan referensi dalam dunia pendidikan, khususnya dalam dunia pendidikan Islam.
E.    Penjelasan Istilah
Adanya kesimpangsiuran dan kesalahpahaman dalam pemakaian istilah merupakan salah satu hal yang sering terjadi, sehingga mengakibatkan penafsiran yang berbeda. Maka untuk menghindari hal tersebut di atas, penulis merasa perlu mengadakan pembatasan dari istilah-istilah yang terdapat dalam judul proposal skripsi ini.
            Adapun istilah yang penulis anggap perlu dijelaskan adalah: ihsan, orang tua, pengaruhnya dan keluarga.
1.     Ihsan
Istilah ”Ihsan” secara umum adalah ”berbuat baik secara lahir maupun batin. Jadi ”Ihsan” yang penulis maksudkan dalam proposal skripsi ini adalah berbuat baik dalam rumah tangga sehingga membentuk sebuah keluarga yang sakinah, mawaddah, warahmah”.
2.     Orang Tua
Menurut Al-Maghribi Said al-Maghribi orang tua adalah satu persekutuan antara pasangan dua jenis manusia yang dikukuhkan dengan pernikahan, yang bermaksud untuk saling menyempurnakan diri.”[3]
Amir Indrakusuma mengatakan, orang tua adalah “orang yang pertama dan yang utama yang wajib bertanggung jawab atas pendidikan anaknya.”[4] Soejano Soekanto  menyatakan orang tua adalah: “Ayah dan ibu yang dianggap tua (cerdik, ahli), pandai dan sebagainya, orang yang dihormati, disegani, tertua”[5]. Sementara W.J.S. Poerwadarminta  mengatakan orang tua terdiri dari dua kata yaitu “orang” dan “tua”. Orang diartikan sebagai “manusia, seorang ahli”.[6] Sedangkan tua diartikan “sudah lama hidupnya”.[7]
Orang tua yang dimaksud adalah Ibu-Bapak yang berfungsi sebagai pemimpin rumah tangga serta bertanggung jawab atas seluruh kehidupan, memberikan kasih sayang, kualitas pendidikan  terhadap anak sehingga dapat membina kesejahteraan lahir dan batin.
Menurut penulis orang  tua adalah orang yang telah melahirkan anak dan mendidik serta membimbingnya dari kecil hingga dewasa
3.     Pengaruh
Al-Marbawi dalam Kamus menjelaskan pengaruh adalah " Dampak” (baik positif maupun negatif).”[8]
Sedangkan menurut penulis, pengaruh adalah akibat yang ditimbulkan dari sesuatu
4.     Keluarga
Keluarga adalah sinonim dari kata Rumah tangga yang mengandung pengertian sanak saudara, kaum kerabat, orang seisi rumah.”[9] keluarga atau rumah tangga merupakan system hidup yang asasi dan sangat urgen dalam pandangan islam yang harus di jaga keberlangsungannya.
Syaiful Bahri Djamarah, menjelaskan bahwa “Keluarga adalah sebuah institusi yang terbentuk karena ikatan perkawinan. didalamnya hidup bersama pasangan suami istri secara sah karena ikatan pernikahan.[10]
            Menurut Al-Maghribi Said al-Maghribi keluarga sakinah adalah satu persekutuan hidup yang dijalin oleh kasih sayang antara pasangan dua jenis manusia yang dikukuhkan dengan pernikahan, yang bermaksud untuk saling menyempurnakan diri.”7
F.     Metode Penelitian
            Adapun metodelogi dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:
1.     Pendekatan Penelitian
Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif: suatu penelitian yang menggambarkan tentang ihsan orang tua dan pengaruhnya terhadap pembinaan keluarga. dalam hal ini Sukardi menjelaskan bahwa: metode kuantitatif merupakan suatu metode yang melibatkan tindakan pengumpulan data guna menentukan, apakah pengaruh tingkat satu variabel atau lebih”.[11] Selanjutnya Sukardi, mengatakan pula bahwa:
“Penelitian kuantitatif adalah suatu metode penelitian yang menggunakan angka-angka dalam menjelaskan hasil penelitian atau metode yang menunjukkan dan menafsirkan data yang ada, misalnya tentang situasi yang diambil suatu hubungan dengan kesehatan, pandangan, sikap yang nampak atau kecenderungan yang sedang nampak, pertentangan yang sedang meruncing dan sebagainya”.[12]

Penelitian ini akan menjelaskan ihsan orang tua dan pengaruhnya terhadap pembinaan keluarga.
2.     Ruang Lingkup penelitian
Adapun ruang lingkup penelitian dalam penulisan skripsi ini adalah : ihsan orang tua dan pengaruhnya terhadap pembinaan keluarga
3.     Sumber Data
Adapun yang menjadi sumber data dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:
Sumber data primer adalah sumber data yang langsung dan segera diperoleh dari sumber data dan penyelidik untuk tujuan penelitian.[13]. Adapun sumber data primer dalam penelitian ini adalah:
1)     Syaiful Bahri Djamarah, Pola Komunikasi Orang Tua Dan Anak Dalam Keluarga, cet. I , PT Rineka Cipta, Jakarta, 2004.
Sumber data skunder yaitu sumber data yang mendukung dan melengkapi sumber data primer tersebut yaitu buku
1)     Begini Seharusnya Mendidik Anak, karya Said Al-Maghribi
2)     Saling Memahami Dalam Bahtera Rumah Tangga, karya Makmun  Mubayidh.
4.     Tehnik Pengumpulan Data
Adapun tehnik pengumpulan data yang penulis gunakan adalah teknik Library Research yaitu menelaah buku-buku, teks dan literature-literature yang berkaitan dengan permasalahan di atas.[14] Suatu metode pengumpulan data atau bahan melalui perpustakaan yaitu dengan membaca dan menganalisa buku-buku, majalah-majalah yang ada kaitannya dengan masalah yang penulis teliti. Selain itu juga akan memanfaatkan fasilitas internet untuk memperoleh literatur-literatur yang berhubungan dengan skripsi ini.
5.     Tehnik Analisa Data
Teknik analisis data adalah proses kategori urutan data, mengorganisasikannya ke dalam suatu pola, kategori dan satuan uraian dasar, ia membedakannya dengan penafsiran yaitu memberikan arti yang signifikan terhadap analisis, menjelaskan pola uraian dan mencari hubungan di antara dimensi-dimensi uraian.
Menurut Moleong, Lexy J analisis data adalah yakni suatu teknik penelitian untuk membuat inferensi dengan mengidentifikasi karakter khusus secara obyektif dan sistematik yang menghasilkan deskripsi yang obyektif, sistematik mengenai isi yang terungkap dalam komunikasi.[15]
G. Sistematika Penulisan
            Adapun sistematika dalam penulisan dalam pembahasan proposal skripsi  ini adalah sebagai berikut :
            Pada bab satu terdapat pendahuluan meliputi : latar belakang masalah, rumusan masalah, tujuan pembahasan, kegunaan pembahasan, penjelasan istilah, metode penelitian dan sistematika penulisan.













DAFTAR KEPUSTAKAAN
Syaiful Bahri Djamarah,Pola Komunikasi Orang Tua dan Anak Dalam Keluarga. Cet I ,Jakarta: Rineka Cipta, 2004.
Al-Maghribi Sais al-Maghribi Begini Seharusnya Mendidik Anak, Cet I, Jakarta: Darul Haq. 2004.
Al-Marbawi, Kamus Al-Marbawi, , Juz I, Cet.I, Jakarta: Syari’ah Nûr Assaqatah Al-Islâmiyah, t.t.
Hobby, Kamus Populer, Cet.XV, Jakarta: Central,  1997.
Sukardi, Metodologi Penelitian, Jakarta, PT. Bumi Aksara. 2003.
  Winarmo Surachmad,. Dasar dan Teknik Research Pengantar Metodologi Ilmiah, Bandung: Angkasa, 1987.
Kartini, Pengantar Metodologi Research Sosial,Bandung: Alumni, 1980.
Moleong, Lexy J. Metodologi Penelitian Kualitatif, Bandung: PT. Remaja Rosdakarya, 2002.



[1] Ta’liq Syarah Arba’in hal. 21
[2] Syaiful Bahri Djamarah,Pola Komunikasi Orang Tua dan Anak Dalam Keluarga. Cet I ( Jakarta: Rineka Cipta, 2004 ). Hal. 25

[3] Al-Maghribi Sais al-Maghribi Begini Seharusnya Mendidik Anak, Cet I, (Jakarta: Darul Haq. 2004), hal. 31
[4] Amir Indrakusuma, Membina Rumah Tangga Bahagia, (Bandung: Al-Ma’arif, 1996), hal. 25.
[5] Soejano Soekanto, Sosiologi Suatu Pengantar, Cet. III, (Jakarta: Yayasan Penerbitan Indonesia, 1970), hal. 61.
[6] W.J.S. Poerwadarminta, Kamus Umum Bahasa Indonesia, (Jakarta: Balai Pustaka, 1976), hal. 583, hal. 583.
[7] W.J.S. Poerwadarminta, Kamus ,..................., hal. 583
[8] Al-Marbawi, Kamus Al-Marbawi, , Juz I, Cet.I, (Jakarta: Syari’ah Nûr Assaqatah Al-Islâmiyah, t.t.), hal. 225
[9] Hobby, Kamus Populer, Cet.XV, (Jakarta: Central,  1997 ), hal 28.
[10] Syaiful Bahri Djamarah, Pola Komunikasi Orang Tua Dan Anak Dalam Keluarga, cet. I (PT Rineka Cipta, Jakarta, 2004) hal. 17.
               7 Al-Maghribi Sais al-Maghribi Begini Seharusnya ,.................. Hal. 43
[11] Sukardi, Metodologi Penelitian, (Jakarta, PT. Bumi Aksara. 2003),hal. 167
[12] Sukardi, Metodologi ………,hal. 160
[13] Winarmo Surachmad,. Dasar dan Teknik Research Pengantar Metodologi Ilmiah, ( Bandung: Angkasa, 1987 ), hal. 163.
[14]Kartini, Pengantar Metodologi Research Sosial, (Bandung: Alumni, 1980), hal. 28.
[15] Moleong, Lexy J. Metodologi Penelitian Kualitatif, (Bandung: PT. Remaja Rosdakarya, 2002), hal. 44.


Post a Comment for " Ihsan Orang Tua Dan Pengaruhnya Terhadap Pembinaan Keluarga"